Jangan Selalu Menyalahkan Setan

Jangan Selalu Menyalahkan Setan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kita kalau bikin dosa dan maksiat yang kita salahin selalu setan. Sering kali manusia memang tergoda untuk menjadikan setan sebagai kambing hitam atas segala kelemahan, padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa setan hanya membisikkan dan mengajak, bukan memaksa. Pilihan tetap ada pada manusia.

Dalam QS. Ibrahim [14]:22, setan sendiri berkata di Hari Kiamat:
وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Artinya: Setan berkata ketika urusan (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku mengingkarinya. Tidak ada kekuasaan bagiku sedikit pun terhadapmu, kecuali aku (sekadar) menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh karena itu, janganlah kamu mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menjadi penolongmu dan kamu pun tidak dapat menjadi penolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang zalim akan mendapat siksaan yang sangat pedih.

Asbābun Nuzūl

* Tidak ada riwayat khusus: Para ahli tafsir seperti al-Wahidi dan al-Suyuthi tidak menyebutkan sebab turunnya ayat ini secara spesifik.

* Makna umum: Ayat ini turun sebagai peringatan universal tentang tipu daya setan. Ia menjelaskan, di hari kiamat, setan akan berlepas diri dari manusia yang mengikutinya.

* Pesan utama: Ayat ini menegaskan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan selain mengajak. Kesalahan ada pada manusia yang memilih untuk mengikuti ajakan tersebut.

Tafsir dan Pelajaran:

• Janji Allah vs janji setan: Allah menjanjikan kebenaran (surga bagi yang taat, neraka bagi yang durhaka), sementara setan hanya memberi janji kosong.

• Keterbatasan setan: Setan tidak bisa memaksa, hanya membisikkan dan mengajak.

* Tanggung jawab pribadi: Ayat ini menekankan bahwa manusia tidak bisa menyalahkan setan; setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya.

* Dialog di akhirat: Setan akan berkata, “Jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri.” Ini menunjukkan penyesalan yang tidak berguna di akhirat.

• Peringatan moral: Ayat ini mengajarkan agar tidak tertipu oleh rayuan duniawi yang bersumber dari setan, karena akhirnya hanya membawa kepada azab.

• Setan hanyalah penguji, bukan penentu.

* Tanggung jawab ada pada manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dan memilih jalan yang benar.

* Menyalahkan setan terus-menerus bisa membuat kita lupa pada muhasabah diri dan perbaikan akhlak.

Relevansi untuk Kehidupan

* Pendidikan spiritual: Ayat ini bisa dijadikan bahan refleksi dalam mendidik anak dan jamaah tentang pentingnya memilih jalan kebenaran.

* Kepemimpinan etis: Pemimpin harus menepati janji, tidak seperti setan yang berjanji lalu mengingkari.

* Parenting & tarbiyah: Orang tua dapat menekankan bahwa godaan tidak pernah memaksa, tetapi pilihan tetap ada di tangan manusia.

Jadi, lebih tepat kalau kita menjadikan bisikan syetan sebagai alarm untuk memperkuat iman, bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab.

Dengan begitu, kita tidak sekadar menyalahkan, tapi menjadikan setiap bisikan sebagai cermin untuk memperbaiki diri.

Kalau kita merujuk pada khazanah Qur’an dan tafsir, para ulama sering menyebut dua faktor utama yang menjerumuskan manusia ke dalam dosa:

1. Hawa nafsu (النفس الأمّارة بالسوء)
* Dorongan internal dari dalam diri manusia.
* Nafsu yang tidak terkendali bisa menipu, membutakan hati, dan membuat seseorang condong pada kesenangan sesaat.

Dalil pendukung
* QS. Yusuf: 53
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

2. Godaan setan (وسوسة الشيطان)
* Dorongan eksternal yang datang dari luar diri.
* Setan hanya bisa membisikkan dan mengajak, tidak memaksa. Namun jika manusia mengikuti bisikan itu, maka ia terjerumus dalam dosa.

Tinggalkan Balasan

Search