Ini sebenarnya mengingatkan kita pada prinsip penting dalam Islam maupun kehidupan sehari-hari: menahan diri sebelum berbicara. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Fenomena memberikan komentar atau pendapat terhadap sesuatu yang kita tidak kuasai sebetulnya adalah hal yang sangat manusiawi, namun di era informasi digital saat ini, hal tersebut menjadi tantangan etika yang serius
Bagaimana kita sebaiknya bersikap.
1. Mengapa Kita Cenderung Ingin Berkomentar?
Seringkali, dorongan untuk berkomentar meski minim ilmu bukan didasari oleh niat buruk, melainkan oleh beberapa faktor psikologis:
• Efek Dunning-Kruger: Ini adalah bias kognitif di mana seseorang yang memiliki pengetahuan sedikit justru merasa sangat ahli karena mereka tidak tahu seberapa luas bidang tersebut sebenarnya. Mereka “tidak tahu bahwa mereka tidak tahu”.
• Kebutuhan akan Validasi Sosial: Dalam budaya media sosial, ada tekanan implisit untuk memiliki opini terhadap segala sesuatu yang sedang trending. Diam sering kali disalahartikan sebagai ketidaktahuan atau ketidakpedulian.
• Heuristik (Jalan Pintas Mental): Otak kita suka menyederhanakan masalah yang kompleks. Kita sering menggunakan emosi atau informasi sekilas untuk membentuk opini instan tanpa melakukan riset mendalam
2. Bahaya Berkomentar Tanpa Dasar Ilmu
Ketika kita berbicara tanpa pondasi pengetahuan yang kuat, ada beberapa konsekuensi yang muncul:
• Penyebaran Mis Informasi: Komentar yang salah bisa menjadi bola salju. Orang lain yang sama-sama kurang paham mungkin menganggap komentar kita sebagai kebenaran, yang akhirnya menciptakan rantai hoaks.
• Merusak Kredibilitas Diri: Sekali kita ketahuan memberikan argumen yang asal bunyi (asbun), orang akan sulit memercayai pendapat kita di masa depan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya kita kuasai.
• Menyakiti Pihak Lain: Dalam isu sensitif (seperti kesehatan, hukum, atau agama), komentar yang dangkal bisa memberikan saran yang berbahaya atau menyinggung perasaan orang yang benar-benar bergelut di bidang tersebut
3. Menghargai “Ketidaktahuan”
Ada kekuatan besar dalam kalimat: “Saya kurang paham tentang hal itu, jadi saya tidak bisa berkomentar banyak.”
Mengakui keterbatasan ilmu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda intelektualitas yang matang. Hal ini menunjukkan bahwa Anda menghormati kebenaran dan menghargai keahlian orang lain. Dunia tidak akan kekurangan opini, tapi dunia sangat kekurangan pemikiran yang reflektif dan hati-hati.
Hikmah dari pesan ini:
* Menghindari kesalahpahaman: Komentar tanpa dasar bisa menimbulkan fitnah atau melukai orang lain.
* Melatih kerendahan hati: Mengakui bahwa kita belum tahu lebih baik daripada berpura-pura tahu.
* Meningkatkan kualitas diri: Diam memberi ruang untuk belajar, merenung, dan mencari ilmu sebelum berbicara.
* Menjaga kehormatan: Orang yang berhati-hati dalam berkomentar akan lebih dihargai karena kata-katanya berbobot.
Jadi, diam bukan berarti lemah, melainkan tanda kebijaksanaan. Kadang, menahan lidah adalah bentuk ibadah yang besar karena kita sedang menjaga hati dan lisan dari dosa.
Dalam ajaran Islam, menjaga lisan dan tidak berbicara tanpa dasar ilmu adalah prinsip yang sangat fundamental. Al-Qur’an secara eksplisit melarang kita untuk mengikuti atau membicarakan sesuatu yang tidak kita ketahui kepastiannya.
1. Surah Al-Isra’ Ayat 36
Ini adalah ayat yang paling spesifik dan tegas dalam melarang manusia untuk berkomentar atau bertindak tanpa ilmu.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Penjelasan Mendalam:
• “Janganlah kamu mengikuti”: Ini mencakup perkataan, keyakinan, dan perbuatan. Jika kita tidak tahu hakikat suatu masalah, kita dilarang ikut-ikutan menyebarkannya.
• Tanggung Jawab Alat Indra: Allah mengingatkan bahwa telinga (yang mendengar informasi), mata (yang melihat kejadian), dan hati (yang mengolah niat dan opini) adalah instrumen yang akan “disidang” di akhirat nanti
2. Surah Al-Hujurat Ayat 6
Ayat ini mengajarkan kita tentang pentingnya Tabayyun (klarifikasi) sebelum merespons suatu kabar, terutama jika datang dari sumber yang kurang jelas.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.
Penjelasan Mendalam: Kecenderungan manusia adalah ingin menjadi yang tercepat dalam berkomentar. Ayat ini memerintahkan kita untuk “mengerem” diri. Tergesa-gesa memberikan opini terhadap berita yang belum jelas kebenarannya bisa menyebabkan penyesalan di kemudian hari.
3. Surah An-Nur Ayat 15
Ayat ini turun sebagai teguran saat terjadi fitnah besar di zaman Nabi (peristiwa Haditsul Ifki). Allah menyindir orang-orang yang berkomentar dengan lisan mereka padahal hati mereka tidak tahu apa-apa.
اِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ ۚ
Artinya: (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar.
Penjelasan Mendalam: Seringkali kita merasa berkomentar di media sosial atau saat berkumpul adalah hal sepele (“menganggapnya remeh”). Namun, Allah menegaskan bahwa menyebarkan opini tanpa ilmu memiliki bobot dosa yang besar di sisi-Nya karena dampaknya yang merusak tatanan sosial dan nama baik orang lain.
Al-Qur’an ingin mendidik kita menjadi manusia yang berbasis data dan wahyu, bukan berbasis asumsi (zhan). Dalam Islam, diam saat tidak tahu adalah bagian dari ibadah dan bentuk penjagaan diri.
