Jarimu, Surga atau Nerakamu

Jarimu, Surga atau Nerakamu
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Digital ink will not be erased by time, but it can erase the rewards in your practice book”
“(Tinta digital takkan terhapus oleh waktu, namun bisa menghapus pahala di buku amalanmu)”

​Jangan remehkan fitnah di media sosial. Setiap ketikan adalah jejak abadi yang akan dihisab di akhirat. Jika bukan manfaat yang kau sebarkan, bersiaplah menanggung beban dosanya. Media sosial bisa menjadi ladang amal jariyah, namun bisa pula menjadi sumber dosa jariyah yang terus mengalir meski kita telah tiada. Gunakan jempolmu untuk merangkul, bukan memukul, untuk menginspirasi, bukan memaki. Allah SWT berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya:
Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Qs. Qaf: 18)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa setiap kata baik yang bermanfaat maupun yang sia-sia terekam sempurna tanpa ada yang terlewatkan.

Dalam hadis, dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,
​مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُت……
Artinya:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam …….“(HR. Bukhari No. 6018, 6019, 6136, 6475 dan Muslim No. 47)

Hadis ini adalah nasihat penting dari Nabi Muhammad SAW agar orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menjaga lisannya. jika tidak bisa berkata baik, maka lebih baik diam, karena setiap ucapan akan dipertanggung jawabkan dan membawa dampak, baik kebaikan maupun keburukan.

​Jadi, media sosial adalah cermin kepribadian dan keimanan. Satu unggahan fitnah dapat menghancurkan kehormatan seseorang dan menjerumuskan penulisnya ke dalam api neraka. Pilihlah untuk diam jika tidak mampu menebar kebaikan.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search