Jenderal Besar Sudirman bukan hanya dikenal sebagai panglima perang yang memimpin gerilya melawan penjajah, tetapi juga sebagai sosok pandu Hizbul Wathan (HW) yang memiliki keteladanan spiritual luar biasa. Kepribadiannya yang sederhana, disiplin, dan religius merupakan buah dari proses pendidikan kepanduan dan keislaman yang kuat.
Salah satu teladan paling menonjol dari Jenderal Sudirman adalah komitmennya dalam menegakkan salat lima waktu dalam kondisi apa pun. Termasuk juga dalam rutinitas salat malam dan mengaji Al Qur’an
Sebagai kader Muhammadiyah dan pandu Hizbul Wathan, Sudirman sejak muda telah ditempa dengan nilai-nilai tauhid, kedisiplinan, ketaatan, dan pengabdian. Pendidikan HW menanamkan bahwa pandu bukan hanya terampil di lapangan, tetapi juga kuat dalam ibadah. Salat lima waktu menjadi fondasi utama pembentukan karakter pandu yang beriman dan bertakwa.
Keteladanan ini tercermin jelas dalam perjalanan hidup Jenderal Sudirman. Di tengah perang gerilya yang berat, ketika kondisi fisiknya lemah karena penyakit paru-paru, ia tetap menjaga salat lima waktu. Bahkan dalam situasi perang yang genting, Sudirman tidak pernah menomorduakan salat. Ia memimpin pasukannya bukan hanya dengan strategi militer, tetapi juga dengan keteladanan iman.
Komitmen terhadap salat sejalan dengan perintah Allah Swt dalam Al-Qur’an “Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Ayat ini menjadi prinsip hidup yang nyata dalam diri Jenderal Sudirman. Baginya, salat adalah sumber kekuatan rohani dan moral. Dari salat inilah, ia memperoleh keteguhan hati, ketenangan jiwa, dan keyakinan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah bagian dari ibadah.
Dalam perspektif kepanduan Hizbul Wathan, salat lima waktu bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan latihan disiplin dan kepemimpinan. Seorang pandu yang taat salat akan terbiasa menghargai waktu, patuh pada aturan, serta memiliki komitmen kuat terhadap janji.
Nilai-nilai inilah yang tertanam dalam diri Sudirman dan kemudian menjelma menjadi kepemimpinan yang berwibawa dan dipercaya rakyat serta pasukannya.
Rasulullah saw. bersabda “Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kesadaran inilah yang membuat Jenderal Sudirman menjadikan salat sebagai prioritas utama. Ketika pemimpin menegakkan salat, maka ia sedang menegakkan keteladanan. Keteladanan itulah yang membangun kepercayaan dan loyalitas pasukan dalam perjuangan.
Bagi generasi pandu Hizbul Wathan hari ini, Jenderal Sudirman adalah teladan nyata bahwa salat lima waktu bukan penghalang aktivitas, tetapi justru sumber kekuatan. Dalam kondisi lapang maupun sempit, sehat atau sakit, salat harus tetap ditegakkan.
Di situlah lahir pandu-pandu tangguh: kuat iman, kokoh karakter, dan siap berjuang untuk agama, bangsa, dan kemanusiaan. Fastabiqul khoirot.
