Setiap Ramadan, manusia bertanya-tanya tentang satu malam yang penuh rahasia, kapan Lailatul Qadar turun? Malam yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Namun Allah tidak pernah menjelaskan tanggalnya secara pasti. Rasulullah Muhammad hanya memberi petunjuk agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil.
Di balik kerahasiaan itu tersimpan hikmah yang sangat dalam. Seandainya malam itu ditentukan secara pasti, mungkin manusia hanya akan bersungguh-sungguh pada satu malam saja. Tetapi ketika waktunya dirahasiakan, maka orang-orang yang benar-benar berharap kepada Allah akan datang setiap malam, mengetuk pintu langit dengan doa, dan menangis dalam kesunyian.
Sebab sejatinya Lailatul Qadar adalah undangan Allah kepada hamba-hamba yang rindu kepada-Nya.bagaimana mungkin disebut cinta jika tidak ada rindu di dalamnya. Setahun lamanya manusia sibuk dengan dunia pekerjaan, urusan, dan segala hiruk pikuk kehidupan. Hati sering teralihkan, langkah sering menjauh dari keheningan bersama Tuhan.
Namun ketika Ramadan datang, khususnya pada malam-malam terakhirnya, Allah seakan memanggil kembali hamba-hamba-Nya untuk hadir pada malam-malam itu, mata yang mengantuk tetap terjaga, tubuh yang lelah tetap berdiri dalam shalat,di dalam sunyi yang lembut itu, manusia bisa berdoa, memohon ampun, memohon kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah.Ada saat-saat ketika hati terasa begitu dekat dengan-Nya.Air mata jatuh tanpa dipaksa.Doa mengalir tanpa direncanakan.
Keheningan malam menjadi begitu manja dan syahdu, seakan langit sedang mendengarkan setiap bisikan hati.Pada saat-saat seperti itu, waktu terasa berjalan terlalu cepat. Fajar yang datang perlahan justru terasa seperti pencuri yang tidak diinginkan kehadirannya.
Seandainya malam bisa dipanjangkan sedikit lagi.
Seandainya sujud itu bisa berlangsung lebih lama lagi.
Namun justru di sanalah letak keindahan pertemuan itu singkat tetapi begitu dalam.
Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang ditemukan oleh manusia, tetapi malam yang menguji kesungguhan hati manusia. Sebagian orang sibuk menebak-nebak tanggalnya. Sebagian lagi menunggu tanda-tandanya.
Namun para salik memahami sesuatu yang lebih halus, yang terpenting bukanlah menemukan malamnya, tetapi menghadirkan diri setiap malam di hadapan Allah.
Bangun dalam kesunyian.
Membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan hati yang tunduk.
Bersujud lebih lama dari biasanya.
Berdoa dengan harapan yang tidak putus.
Pada akhirnya, siapa yang paling bersungguh-sungguh konsisten dan istiqomah mendatangi undangan Allah dengan kesucian niat, dan dengan hati yang penuh harap. merekalah yang sejatinya telah menggapai Lailatul Qadr.
Wa Allahu A’lam
