Jika Kakbah Dipindahkan ke Indonesia, Masihkah Kita Mau Mendatanginya?

*) Oleh : Munahar
Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim dan Kepala SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya
www.majelistabligh.id -

Sebetulnya, apa yang menjadi daya tarik Kakbah sehingga orang rela berkorban harta, raga, bahkan jiwa untuk bisa mendatanginya? Jutaan orang rela berdesak-desakan, bahkan tidak memedulikan kondisi fisik sendiri, hanya supaya bisa mendekat dan mencium Hajar Aswad.

Betulkah karena faktor fisik Kakbah dan Hajar Aswad semata? Pertanyaan itu muncul di benak saya dan terbawa sampai kembali ke Tanah Air. Jika betul fisik bangunan yang menjadi daya tarik utama, mari kita coba membangun asumsi dengan metode thought experiment: Seandainya Kakbah beserta Hajar Aswad dipotong bagian bawahnya, lalu diangkut dengan kendaraan berteknologi tinggi dan dipindahkan ke Indonesia, apakah ia masih memiliki daya tarik yang sama dan kita masih mau mendatanginya?

Kemungkinan besar daya tariknya akan mengecil, sifatnya sementara, dan kita enggan mendatanginya. Mengapa? Karena ia telah kehilangan roh. Kakbah dan lokasinya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hal tersebut layaknya jasad kita; jika jasad kehilangan roh, ia hanya menjadi seonggok fisik yang tidak memiliki fungsi, manfaat, maupun kemuliaan sebagaimana mestinya.

Lima Ruh yang Menghidupkan Kakbah

Daya tarik Kakbah bukanlah terletak pada kemegahan arsitekturnya, melainkan pada nilai-nilai intrinsik yang melekat padanya:

  1. Nilai Kesejarahan (Baitullah): Kakbah adalah pusat peribadatan pertama di muka bumi (QS Ali ‘Imran: 96). Di titik mana bangunan persegi tersebut harus didirikan, sepenuhnya merupakan kehendak-Nya. Allah Swt telah memilih Masjidilharam sebagai tempat berdirinya Baitullah.
  2. Nilai Kerisalahan: Bangunan ini memiliki jejak kenabian yang sangat kuat. Fondasinya ditinggikan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. (QS Al-Baqarah: 127), sehingga menjadi simbol estafet dakwah tauhid lintas zaman.
  3. Nilai Spiritual dan Simbol Ketauhidan: Kakbah bukanlah objek sembah, melainkan titik fokus (kiblat) yang menyatukan hati umat Islam di seluruh dunia menuju Tuhan Yang Maha Esa (QS Al-Baqarah: 149–150).
  4. Nilai Kesucian Tanah: Dalam Islam, kesucian Kakbah tidak terpisahkan dari tanah tempat ia berpijak. Makkah disebut sebagai Tanah Haram karena Allah Swt sendiri yang menetapkan batas kesuciannya sejak penciptaan dunia (QS Al-Ma’idah: 97 dan Hadits Bukhari Muslim)
  5. Nilai Ketaatan: Inilah ruh yang paling utama. Orang datang ke sana bukan karena mengagumi batu, melainkan karena kepatuhan pada perintah Allah Swt. Tanpa perintah syariat, Kakbah hanyalah sebuah bangunan kubus biasa.

Sejarah yang Tak Bisa Dipindah

Memindahkan Kakbah berarti mencabutnya dari akar sejarah. Ibadah haji dan umrah adalah satu paket ritual yang melibatkan geografi spesifik. Bayangkan jika Kakbah dipindahkan, bagaimana dengan Safa dan Marwah? Ritual sai tidak akan sah jika dilakukan di tempat lain karena ia merupakan napak tilas perjuangan Ibunda Hajar saat mencari air untuk Ismail kecil. Begitu pula dengan Sumur Zamzam yang merupakan mukjizat yang muncul tepat di titik tersebut.

Tidak mungkin kita melakukan tawaf di satu negara, lalu terbang ke Makkah hanya untuk sai dan wukuf. Memindahkan bangunannya ke Indonesia tidak akan serta-merta membawa mukjizat yang sudah terikat erat dengan tanah suci tersebut.

Magnet Iman

Pada akhirnya, kita menyadari bahwa jika Kakbah dipindahkan, ia akan menjadi bangunan yang kehilangan makna. Ia akan menjadi benda mati yang sunyi dari getaran iman.

Daya tarik yang membuat orang rela berkorban nyawa, harta, dan rela berbondong-bondong mendatanginya bukanlah pada material batunya, melainkan pada ketaatan kepada Sang Pencipta. Kakbah adalah bukti bahwa ketika sebuah benda diletakkan di bawah perintah Allah Swt, ia akan menjadi magnet iman yang tidak akan pernah padam hingga akhir zaman. (*)

Tinggalkan Balasan

Search