Jujur dalam Ucapan, Selamat dalam Kehidupan

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Ferry Is Mirza DM

Marilah kita merenungi dan memahami salah satu perilaku yang dapat membawa dosa, yaitu berbohong.

Berbohong bukan hanya tindakan tercela, tetapi juga dapat menimbulkan dampak buruk yang luas, baik bagi individu maupun masyarakat.

Sebaliknya, kejujuran membawa keberkahan di dunia dan menjadi kunci keselamatan serta kebahagiaan di akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Sebaliknya, kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka.” (HR. Bukhari)

Kejujuran sebagai Prinsip Utama dalam Islam

Islam menempatkan kejujuran sebagai salah satu prinsip utama yang harus dijaga oleh setiap Muslim. Sebaliknya, kebohongan adalah ciri dari orang-orang munafik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Berbohong dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik secara lisan, tulisan, maupun tindakan.

Di era digital saat ini, kebohongan semakin mudah tersebar melalui media sosial dan alat komunikasi lainnya.

Padahal, berbohong bertentangan dengan fitrah manusia yang sejatinya diciptakan Allah untuk mencintai kebenaran.

Dampak Negatif Berbohong

Ketika seseorang berbohong, ia merusak hati nuraninya sendiri. Selain itu, berbohong juga berdampak buruk pada kondisi fisik dan psikologis.

Misalnya, saat seseorang berbohong, detak jantungnya bisa meningkat, muncul keringat dingin, atau merasa gugup.

Hal ini menunjukkan bahwa kebohongan tidak sesuai dengan sistem alami tubuh manusia.

Lebih dari itu, kebohongan dapat menimbulkan efek domino. Seseorang yang terbiasa berbohong akan sulit dipercaya oleh orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Hati-hatilah kalian terhadap kebohongan, karena sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa ke neraka. Seseorang yang terus-menerus berbohong dan berusaha untuk berbohong, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang pembohong. Sebaliknya, berpegang teguhlah pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga. Seseorang yang selalu berkata jujur dan berusaha untuk jujur, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur.” (HR. Bukhari)

Keutamaan Kejujuran

Syekh Ibnu Ruslan menjelaskan bahwa kebiasaan berbohong tidak hanya membuat seseorang dikenal sebagai pembohong di dunia, tetapi juga di hadapan Allah dan para malaikat. Bahkan jika ia berkata jujur setelah itu, orang-orang tetap sulit percaya kepadanya.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghindari kebohongan sekecil apa pun karena dampaknya sangat buruk, baik bagi diri sendiri maupun hubungan sosial.

Sebaliknya, kejujuran membawa seseorang kepada derajat yang tinggi di sisi Allah. Kejujuran tidak hanya mencakup ucapan, tetapi juga niat dan tindakan.

Dengan berlaku jujur, seseorang lebih mudah melakukan amal kebajikan yang murni dari niat buruk. Pada akhirnya, kebajikan itu akan membawanya kepada rahmat Allah dan surga-Nya.

Kejujuran dalam Interaksi Sosial

Selain merugikan diri sendiri, kebohongan juga dapat merusak hubungan sosial. Ketika seseorang berbohong untuk menutupi kesalahannya, ia sebenarnya sedang menanam benih ketidakpercayaan di tengah-tengah masyarakat.

Dalam banyak kasus, kebohongan bahkan bisa menjadi penyebab utama perpecahan dan konflik.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan kita agar senantiasa menjaga kejujuran dalam segala hal:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Kejujuran adalah sifat yang mendekatkan kita kepada Allah dan menjauhkan kita dari azab-Nya. Namun, ada beberapa keadaan di mana Islam memberikan kelonggaran untuk tidak mengatakan kebenaran secara mutlak, selama bertujuan untuk kebaikan.

Misalnya, dalam upaya mendamaikan dua pihak yang bertikai, menjaga keharmonisan rumah tangga, atau melindungi nyawa seseorang yang tidak bersalah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidak dianggap berdusta seseorang yang berkata untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih, dia berkata sesuatu yang baik atau menyampaikan kebaikan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Namun, kelonggaran ini harus dipahami dengan bijak dan tidak boleh disalahgunakan. Dalam keadaan normal, kejujuran tetaplah menjadi prioritas utama bagi setiap Muslim.

Marilah kita jadikan ini sebagai pengingat untuk senantiasa menjaga kejujuran dalam hidup kita. Hindarilah segala bentuk kebohongan, baik yang kecil maupun yang besar.

Ingatlah bahwa setiap ucapan dan perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk selalu berkata benar dan menjauhkan kita dari sifat dusta. Aamiin. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search