Jumat yang Sama, Hormat yang Berbeda

Jumat yang Sama, Hormat yang Berbeda
*) Oleh : Nashrul Mu'minin
Content writer Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Jumat, 3 April 2026, jatuh di persimpangan: Ayyamul Bidh dan Jumat pekan bagi Muslim, Jumat Agung bagi Kristiani. Bagi kita yang berpuasa dan melangkah ke masjid, hari itu bukan hanya ibadah rutin—ia juga undangan untuk menumbuhkan adab publik: menghargai tetangga iman lain yang sedang berduka dan merenungi wafat Isa al-Masih menurut keyakinan mereka.

Menghormati tidak berarti ikut meyakini. Kita tahu Islam menempatkan Nabi Isa ‘alaihissalam sebagai rasul mulia, bukan yang wafat di salib dalam pengertian akidah mereka. Perbedaan itu tetap; yang kita rawat adalah akhlak: tidak mengganggu, tidak mengejek, tidak merusak suasana doa mereka. Cukup menahan diri—itu sudah bagian dari birrul-waṭan dan ḥusnul-juwār.

Puasa mengajarkan imsak—menahan. Kali ini yang ditahan bukan hanya makan-minum, tapi juga lidah dan prasangka. Saat lalu lalang spanduk hitam-kuning dan prosesi sunyi, kita bisa menepi sejenak: doakan saudara kita diberi keteguhan, doakan diri kita diberi kelapangan. Kesalehan bertambah karena empati, bukan berkurang.

Shalat Jumat menguatkan ukhuwah. Khotib bicara takwa, sabar, lisan yang terjaga. Butir-butir itu berlaku universal. Kita bawa pulang: merawat lisan di media sosial, menahan meme yang merendahkan perarakan mereka, meluruskan kabar bohong bila muncul. Hormat bertumbuh dari hal kecil.

Di rumah, orang tua menjelaskan pada anak: “Mereka mencintai Nabinya, kita mencintai Nabi kita; hari ini mereka sedih, kita tahan suara.” Anak-anak belajar bahwa iman teguh tidak perlu cemas pada ritual orang lain. Dengan begitu, kerukunan bukan slogan, melainkan napas rumah.

Sejarah mencatat Islam hadir dengan jaminan bagi “ahl al-ṣalīb”. Piagam dan praktik klasik melindungi gereja dan perayaan. Hari ini ujiannya sederhana: saat jalanan ramai, apakah tetangga Kristiani merasa aman lewat kampung kita? Jika ya, warisan itu hidup.

Sebagian khawatir: “Jangan sampai akidah kita larut.” Justru karena akidah jelas—Allah Esa, Isa rasul—kita tidak goyah. Kita bisa mengangguk hormat tanpa ikut menyakini makna teologis Jumat Agung. Batas itu sehat; tanpanya, toleransi jadi keruh.

Puasa juga melatih menunda reaksi. Status provokatif tentang salib atau “hari sedih” cukup dilewatkan atau diluruskan sejuk. Menang di kolom komentar bukan tujuan; menjaga hati tetap bersih itulah sasaran.

Kita tidak diminta membatalkan identitas. Tetap tegaskan: kami Muslim, salat Jumat, puasa sunnah. Pada saat yang sama, kami tidak menghalangi mereka yang menundukkan kepala. Dua kesalehan berjalan paralel; kota jadi lebih lapang.

Gotong-royong muncul nyata: remaja masjid mengatur parkir agar tidak menutup akses gereja, warga menahan hajatan bising. Bukan besar, tapi penting—kerja sama tanpa seremonial.

Bagi pemuda, ini latihan: mencintai Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak memerlukan membenci keyakinan lain. Iman bertambah karena ibadah, bukan karena nyinyir. Remaja yang paham ini akan dewasa tangguh.

Tentu ada yang bersuara: “Tak perlu ikut-ikut.” Sepakat—kita memang tidak ikut-ikutan. Yang kita lakukan: tidak mengganggu. Dalam fiqih kebinekaan, itu sudah kemuliaan.

Malamnya, usai tarawih—tidaknya—kita khatamkan hari dengan syukur. Puasa melatih empati, Jumat melatih solidaritas, menyaksikan mereka berduka melatih ḥayā’. Semua mengalir pada takwa.

Jumat ini mengajari: perbedaan waktu tidak harus jadi tembok. Saat mereka menunduk, kita menahan klakson; saat kita sujud, mereka menahan suara. Kota bernapas lega.

Maka 3 April 2026 bukan soal siapa paling khusyuk. Ia tentang kita yang Muslim memilih hadir sebagai tetangga yang lapang, menjadikan puasa dan Jumat kali ini lebih panjang maknanya: menahan diri, menguatkan ukhuwah, dan menghormati mereka yang merayakan kesedihan imannya. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search