Kader ’Aisyiyah Dilatih Jadi “Penyaring” Hoaks Kesehatan

Pengetahuan tentang makanan bergizi jadi topik utama pelatihan pada kader aisyiyah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Membendung derasnya arus misinformasi gizi di media sosial, Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) ’Aisyiyah melatih lebih dari 200 kadernya dari seluruh Indonesia untuk menjadi edukator digital.

Berkolaborasi dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), program pendampingan ini dirancang agar para kader mampu memproduksi konten edukasi gizi yang kreatif, kredibel, dan mudah dipahami masyarakat.

Ketua Majelis Kesehatan PP ’Aisyiyah, Warsiti, menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk merespons perubahan pola konsumsi informasi publik yang kini didominasi media sosial. Menurutnya, pendekatan edukasi secara tatap muka tetap relevan, namun jangkauannya amat terbatas.

“Masyarakat kita sudah berubah dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi. Media sosial kini menjadi ruang yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan kesehatan secara tepat dan lebih luas,” ujar Warsiti saat memberikan arahan program.

Warsiti menambahkan, minimnya literasi digital di tengah banjir informasi kerap memicu kebingungan publik akibat maraknya hoaks, mitos, dan klaim medis tanpa dasar ilmiah. Karena itu, kader ’Aisyiyah dibekali keterampilan mengolah materi medis yang kompleks menjadi pesan populer berbasis bukti ilmiah.

salah satu fokus utama pelatihan ini adalah meluruskan kaprah penggunaan kental manis pada anak. Perwakilan Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Merita Arini, menyoroti dampak iklan masa lalu yang keliru sehingga membentuk persepsi salah di masyarakat, seolah kental manis adalah susu pertumbuhan.

Padahal, riset kolaborasi YAICI dan ’Aisyiyah mencatat lebih dari 67 persen responden pernah mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu harian anak.

“Tugas kader digital ‘Aisyiyah adalah menjadi pelurus informasi. Kita harus masif mengedukasi bahwa kental manis tinggi gula dan sangat rendah kandungan susunya, sehingga berisiko memicu obesitas serta penyakit tidak menular sejak dini. Pesan ini harus dibungkus dengan bahasa yang akrab bagi para ibu,” terang Merita.

Tak hanya fokus pada substansi, ’Aisyiyah juga mendorong produksi konten kesehatan yang inklusif dan ramah disabilitas. Warsiti meminta para kader selalu menyertakan teks transkrip atau Juru Bahasa Isyarat (JBI) pada setiap konten video.

“Media edukasi digital kita harus ramah bagi kawan-kawan tunarungu. Informasi kesehatan ini harus bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan, tanpa terkecuali,” pungkas Warsiti, sembari mendorong seluruh pimpinan wilayah ’Aisyiyah untuk terus melahirkan inovasi gerakan kesehatan berbasis dampak nyata. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search