Para rasul diutus untuk mendakwahkan penyembahan kepada Allah. Namun orang kafir melawan dengan melakukan kaderisasi guna mempertahankan penyembahan berhala. Apa yang dialami Nabi Saleh merupakan contoh. Dia diharapkan meneruskan tradisi penyembahan berhala sekaligus tokoh yang akan menjalankan tradisi pemberhalaan. Namun Allah memiliki rencana dengan mengutusnya sebagai rasul untuk mengeliminasi dan menghilangkan tradisi penghinaan kepada Allah.
Misi Tauhid
Sebagaimana umumnya tugas para rasul, Nabi Shaleh diutus di tengah-tengah masyarakat yang menyembah berhala. Para tokoh terus mempertahankan tradisi ini dengan berbagai cara. Namun Nabi Saleh tetap istiqamah mengajak masyarakatnya menyembah kepada Dzat yang layak disembah.
Nabi Saleh mengingatkan kaumnya untuk menyembah kepada Allah. Penyembahan hanya kepada Allah dijelaskan dengan rasional dan argumentatif. Di antara Allah yang menyiapkan bumi untuk keberlangsungan hidup. Nabi Saleh juga mengingatkan bahwa manusia ditetapkan sebagai pemakmur bumi untuk menyadari bahwa semuanya sebagai karunia Allah yang harus disyukuri.
Alih-alih menyadari atas kesalahannya, kaum Tsamud untuk melakukan penyelewengan dalam penyembahan. Mereka tidak menyembah kepada penyedia bumi, tetapi justru menyembah kepada selain-Nya. Hal ini sebagai kejahatan terbesar. Betapa tidak, manusia diciptakan dengan kekuatan dan disiapkan bumi untuk kemakmuran hidupnya. Namun begitu makmur, mereka justru mengagungkan kepada sesuatu yang tak tak pantas. Nabi Saleh mengingatkan pentingnya kembali kepada penyembahan kepada Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Atas kesalahan fatal itu, Nabi Saleh mengajak kaumnya untuk bertobat dan kembali ke jalan yang lurus. Perjuangan yang gigih itu diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَاِ لٰى ثَمُوْدَ اَخَاهُمْ صٰلِحًا ۘ قَا لَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَـكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗ ۗ هُوَ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ وَا سْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَا سْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْۤا اِلَيْهِ ۗ اِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ
“Dan kepada kaum Samud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari Bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud : 61)
Misi Nabi Saleh agar kaumnya menyembah kepada Allah, namun mereka terus menerus melakukan kejahatan besar ini. Bahkan mereka mewariskan tradisi penyembahan kepada berhala secara turun menurun.
Kaderisasi Pemberhalaan
Tradisi penyembahan berhala tidak berhenti meskipun Nabi Saleh mengajaknya untuk menyadari kesalahan mereka.
Alih-alih menyadari, mereka justru terus melangsungkan tradisi itu dengan mengkaderisasi berbagai generasi. Mereka menganggap bahwa tradisi pemberalaan sebagai hal terbaik. Mereka berkeyakinan bahwa berhala itu yang memberi rezeki dan kemakmuran hidupnya.
Bahkan mereka pun berharap Nabi Saleh sebagai kader yang akan melanjutkan tradisi ini. Mereka pun secara terbuka menyampaikan bahwa Nabi Saleh telah mendakwahkan agama yang salah. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قَا لُوْا يٰصٰلِحُ قَدْ كُنْتَ فِيْنَا مَرْجُوًّا قَبْلَ هٰذَاۤ اَتَـنْهٰٮنَاۤ اَنْ نَّـعْبُدَ مَا يَعْبُدُ اٰبَآ ؤُنَا وَاِ نَّنَا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدْعُوْنَاۤ اِلَيْهِ مُرِيْبٍ
“Mereka (kaum Samud) berkata, “Wahai Saleh! Sungguh, engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang yang diharapkan, mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.” (QS. Hud : 62)
Mereka salah dalam memandang Nabi Saleh sebagai orang yang diharapkan sebagai pelanjut tradisi penyembahan berhala. Betapa menyesalnya, ketika mereka menemukan kenyataan bahwa Nabi Saleh justru menentang tradisi ini dan berupaya untuk melenyapkannya.
Orang-orang kafir pun berupaya menentang dakwah Nabi Saleh dan berusaha melenyapkannya.
Sikap buruk tokoh masyarakat saat ini juga tidak berbeda dengan pemuka masyarakat di era Nabi Saleh.
Para dai yang mendakwahkan penyembahan kepada Allah juga mengalami nasib yang sama dengan apa yang dilakukan Nabi Saleh. Mereka dituduh sebagai pemecahbelah umat, perusak budaya, dan bahkan merusak negara. Padahal dai hanya mengingatkan adanya Dzat yang memberi kehidupan yang baik, serta mengokohkan kedudukan mereka hingga berkuasa dan memiliki harta kekayaan yang melimpah.
Dengan mentauhidkan kepada Allah, kedudukan mereka semakin kuat, harta mereka semakin berkah, dan amalan mereka akan dibalas sebagai kebaikan di dunia dan akhirat. Para dai hanya menyeru dan menyembah kepada Allah tanpa mengganggu kekuasaannya, namun para pemuka justru mencurigai dengan kelompok yang membahayakan masyarakat dan negara.
Masjidil Haram, 11 Maret 2026
