Kajian Ahad (1/2/2026) pagi Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung Kota Surabaya berlangsung di masjid At Taqwa lingkungan SD Muhammadiyah 15 Surabaya (SDM Limas). Kali ini mengangkat tema Puasa, Refleksi dan Transendensi bersama Drs. H. Qodiron Abdurrohim, MPdI sebagai penyaji.
Kegiatan ini diikuti segenap Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung, segenap Pimpinan Majelis dan LAZISMU PCM Wiyung, segenap Pimpinan Ortom (‘Aisyiyah, NA, Pemuda Muhammadiyah, IPM, HW, Tapak Suci Putra Muhammadiyah), segenap PRM/PRA dan anggota se-Cabang Wiyung. Juga segenap Kepala Sekolah, guru dan karyawan Daarul Hufadz, TK ‘Aisyiyah 31, SD Muhammadiyah 15, SMP Muhammadiyah 17, SMA Muhammadiyah 9, LKSA Muhammadiyah, LKSA ‘Aisyiyah Wiyung, Pondok Pesantren KH Mas Mansyur, Takmir Masjid dan Jama’ah se-cabang Wiyung dan simpatisan Muhammadiyah serta ‘Aisyiyah.
Ketua PCM Wiyung H. Suri Marzuki, SE dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas kehadiran ustadz H. Qodiron sebagai penyaji, juga seluruh peserta kajian Ahad pagi hari ini.
“Kami mengingatkan kembali hasil Raker PCM Wiyung tentang kajian Ahad pagi akan rutin dilaksanakan setiap bulan, maka kami mohon kehadiran sesuai dengan pemberitahuan yang disampaikan Majelis Tabligh PCM Wiyung,” ujarnya.
Di samping itu, Ketua PCM Wiyung juga mengajak anggota persyarikatan untuk medukung program kerja Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) PCM Wiyung, yang saat ini sudah buka toko di gedung SMPM 17 Surabaya.
“Silahkan dikunjungi dan membeli sesuai kebutuhan bapak ibu sekalian,” tutur Abah Suri, panggilan akrabnya sambil tersenyum.
Selanjutnya, Ustaz Qodiron, panggilan akrabnya mulai dengan bersilaturahim kepada seluruh peserta kajian Ahad pagi, kemudian memberikan pengantar puasa, khususnya puasa Ramadan.
Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga saja, melainkan sebuah ibadah konprehensif yang mencakup dua dimensi mendalam : Refleksi ( Muhasabah ) dan Transendensi ( koneksi spiritual ) menembus batas-batas kemanusiaan menuju kesadaran Ilahi.
Menurut Ustaz Qodiron, refleksi diri adalah proses melihat kembali ke dalam diri sendiri, merenungkan tindakan, dan mengevaluasi hidup. Diantaranya;
1. Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs ), puasa membantu memurnikan diri dari dosa, kesalahan, dan sifat-sifat buruk seperti amarah, iri hati, dan dengki.
يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ {} إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Pada hari [ketika] harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (_Qs.asy-Syu’ara’ 26:88-89 )
2. Pengendalian Hawa Nafsu. Puasa mengajarkan kedisiplinan dan kesabaran dalam mengendalikan nafsu, seperti keserakahan, dan keinginan duniawi, yang seringkali mengarahkan pada kerusakan وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allâh. ( Qs.Shâd/38: 26) ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ Tiga perkara yang membinasakan: kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, orang yang membanggakan diri sendiri. (HR.Baihaqi)
3. Empati , dengan merasakan lapar, seseorang diajak merenungkan kondisi orang yang membutuhkan, sehingga menumbuhkan rasa kepedulian sosial. لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ_Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencinta saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim])_
Sedangkan puasa sebagai transendensi (koneksi spiritual). “Transendensi berarti melampaui kebutuhan fisik untuk mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” tambah ustaz Qodiron.
Diantaranya adalah;
1. Peningkatan Kualitas Hubungan dengan Tuhan. Puasa adalah ibadah yang bersifat personal dan tersembunyi (hanya Tuhan dan pelakunya yang tahu), sehingga nilai keikhlasannya sangat tinggi dan secara langsung memperkokoh hubungan spiritual ( hablum minallah ). كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. (HR.Bukhari-Muslim)
2. Pencapaian Derajat Takwa, tujuan utama puasa adalah meraih derajat takwa, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, yang mendorong kepatuhan penuh. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.( Qs.al-Baqoroh/2:183)
3. Transformasi Spiritual Puasa mengubah fokus dari kebutuhan duniawi ke peningkatan ibadah (seperti tarawih, tadarus, i’tikaf dan sedekah). Dari ‘Abdullah bin Busr, ada seorang Arab Badui bertanya pada Rasulullah saw, siapakah manusia yang paling baik. Jawaban Rasul saw : مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ (Yang paling baik adalah) yang panjang umurnya dan baik pula amalnya. (HR. Tirmidi)
4. Recharging Energi Spiritual, puasa berfungsi sebagai pelatihan spiritual untuk mengasah kelembutan jiwa dan meningkatkan keimanan. وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) (Qs.al-Anfal/8:2) وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya (Qs.al-Mudatstsir/74:31)
“Puasa yang ideal tidak hanya menahan lapar, tetapi menjadi puasa transformatif, dimana seseorang merencanakan perubahan mental dan spiritual sejak awal Ramadan. Melalui puasa, manusia belajar bahwa kedamaian batin (refleksi) tercapai dengan cara mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (transendensi),” seru Ustaz Qodiron. (ali shodiqin)
