Mengawali langkah di tahun yang baru, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Plosoklaten Kabupaten Kediri menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi yang bertempat di halaman Masjid Haitsam Ibrahim, kompleks Muhammadiyah Modern Boarding School (MMBS) Kediri, Ahad (4/1/2026).
Kegiatan yang dihadiri oleh para asatidz pondok, santri serta jemaah dengan antusiasme tinggi ini. Mereka mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
Ketua PCM Plosoklaten, Islam menyampaian, kajian ini dimaksudkan sebagai momentum evaluasi spiritual bagi jemaah dalam menghadapi pergantian tahun dari 2025 menuju 2026 melalui pendekatan muhasabah.
Pemateri, Ustaz Sofyan Arif, MA dalam paparannya mengawali dengan urgensi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Ia menyoroti, umat Islam saat ini masih sangat terikat dengan kalender Masehi dalam kehidupan organisasi maupun lembaga. Oleh karena itu, ia mengajak jemaah untuk melakukan muhasabah istilah agama untuk evaluasi diri yang berasal dari kata hasaba-yuhasibu yang berarti menghitung.
“Seorang hamba belum bisa dikatakan bertakwa sampai ia mampu menghitung dirinya sendiri. Sebagaimana pesan Umar bin Khattab r.a., Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu, maka hitung-hitunglah dirimu sebelum nantinya akan dihitung di hadapan Allah. Kita sering menilai orang lain dengan mudah, namun menilai diri sendiri itu sulit,” tegas Ustadz Sofyan.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Sofyan menjabarkan tiga poin utama muhasabah yang harus diperhatikan oleh setiap warga Muhammadiyah:
Pertama, Muhasabah iman, iman bersifat dinamis (yazidu wa yankusu). Sebagai landasan, ia mengutip QS. Al-Hasyr ayat 18:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerj1akan.”
Kedua, Muhasabah Ibadah. Poin ini menjadi perhatian utama dalam kajian. Ustaz Sofyan menjelaskan, ibadah mencakup aspek mahdhoh (ritual murni) maupun ghairu mahdhoh (umum).
• Prioritas Salat: Beliau menekankan hadits “Innama awwalu ma yuhasabu bihi al abdu fi yaumil qiyamah ash sholah“. Salat adalah amal pertama yang dihisab dan menjadi pembeda (al-farqu) antara muslim dan kafir.
• Tanggung Jawab Keluarga: Mengacu pada ayat “Quu anfusakum wa ahlikum naara”, jamaah diingatkan untuk menjaga keluarga dari api neraka dengan menertibkan sholat anak-anak. Beliau menekankan hadits Nabi: “Muuru auladakum lisholah wahum abnakum sabah sinin” (Perintahkan anak sholat usia 7 tahun) dan “Wadhribuhum wahun abna asr” (Pukullah mereka—dengan edukasi—jika meninggalkan sholat di usia 10 tahun).
• Siklus Amal Rajab-Ramadhan: Bertepatan dengan bulan Rajab, beliau memaparkan skema ibadah: Rajab adalah bulan menanam benih amal, Sya’ban bulan menyiram dan memupuk, dan Ramadhan adalah bulan memanen pahala. “Peningkatan ibadah baik wajib maupun sunnah, membaca Al-Quran, hingga puasa harus dimulai sekarang jika ingin memanen kemuliaan di bulan Ramadhan nanti,” jelasnya.
Ketiga, Muhasabah akhlak. Ustaz Sofyan menekankan bahwa ibadah yang benar harus bermuara pada akhlakul karimah. Ia menyitir ayat “Innaka la’alla khuluqin ‘adzim” serta hadits tentang tujuan diutusnya Rasulullah SAW semata-mata untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia.
Suasana di halaman masjid yang cerah menambah kekhidmatan jamaah dalam menyerap materi. Kajian pun diakhiri dengan pesan agar jamaah tidak melalaikan dua nikmat besar, yaitu kesehatan dan waktu luang.
Acara ditutup kembali oleh jajaran PCM Plosoklaten yang dibarengi dengan pengumuman rencana kajian mendatang serta laporan hasil infaq yang terkumpul. Kegiatan ini diakhiri dengan semangat baru bagi jamaah untuk meningkatkan kedisiplinan ibadah di awal tahun ini. (Hisyam Sekretaris IMM PK At-Tazkiyah)
