Kajian Subuh Ramadan ke-12 di Masjid Al Hikmah PRM Sumorame, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, berlangsung khidmat pada Ahad (1/3/2026). Pembicara Ustaz Drs. Zaini mengangkat tema “Menjaga Hati di Bulan Suci”, mengajak jamaah menyadari bahwa keselamatan di akhirat tidak ditentukan oleh harta dan anak, melainkan oleh kebersihan hati.
Ia membuka kajian dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara ayat 88–89: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” Ayat ini menegaskan pentingnya qalbun salim—hati yang bersih dari syirik dan penyakit batin.
Menurut Ustaz Zaini, syirik adalah penyakit hati paling berbahaya. Jika seseorang wafat dalam keadaan belum bertaubat dari syirik, dosanya tidak diampuni. Ia juga mengingatkan dosa yang berkaitan dengan hak sesama, seperti utang atau merendahkan orang lain, tidak akan selesai kecuali meminta maaf dan menunaikan hak tersebut.
“Itu tidak cukup hanya dengan istighfar. Harus diselesaikan kepada orangnya,” tegasnya.
Ia membedakan sakit fisik dan sakit hati. Penyakit jasmani seperti kanker atau gagal ginjal dampaknya berhenti di dunia. Namun penyakit hati—hasad, riya, dan kesombongan—bisa berujung siksa akhirat.
Karena itu, ibadah hati menjadi perkara paling penting dalam kehidupan seorang Muslim. Ustaz Zaini mengisahkan seorang perempuan berkulit hitam yang menderita epilepsi dan meminta doa kepada Nabi. Ia diberi pilihan sembuh atau bersabar dengan jaminan surga. Perempuan itu memilih bersabar.
“Sabar adalah ibadah yang berpahala sebagaimana salat,” ujarnya, menegaskan bahwa kekuatan iman lahir dari kesadaran hati.
Ia mengingatkan, jangan merasa aman hanya karena berada di masjid.
“Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi melihat hati,” katanya. Penyakit iri dan dengki, lanjutnya, dapat menghapus kebaikan seperti api membakar kayu.
Ia menyinggung kisah Iblis yang iri kepada Adam serta peristiwa Qabil dan Habil sebagai contoh awal dosa karena hasad.
Ramadan, katanya, adalah momentum menempa diri dari iri dan prasangka buruk dengan memperbanyak istighfar serta menumbuhkan husnuzan. Mengutip hadis riwayat Musnad Ahmad, ia menyampaikan firman Allah dalam hadis qudsi, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku.”
Husnuzan melahirkan ketenangan dan mengikis rasa takut berlebihan terhadap urusan dunia.
Menutup kajian, Ustaz Zaini mengajak jamaah menetapkan tiga sikap untuk membebaskan diri dari rasa takut: ridha terhadap ketetapan Allah, menyadari hidup adalah ujian, dan fokus pada akhirat.
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membersihkan hati agar kelak dapat menghadap Allah dengan hati yang bersih. (yekti pitoyo)
