Kalau Kita Tahu Seberapa Sakitnya Saat Nyawa Dicabut

Kalau Kita Tahu Seberapa Sakitnya Saat Nyawa Dicabut
*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Mungkin kita akan lebih berhati-hati menjalani hidup. Bukan hanya takut mati. Tapi takut pulang dalam keadaan belum siap.

Kita terlalu sering memikirkan uang yang belum terkumpul, rumah yang belum selesai, cita-cita yang belum tercapai, penilaian manusia yang belum kita dapatkan. Sementara ada satu perjalanan yang pasti kita jalani, tetapi sering kita tunda persiapannya, yakni kematian.

Aku pernah berpikir, kalau manusia bisa melihat bagaimana rasanya ketika ajal benar-benar datang, mungkin kita akan lebih menjaga lisan. Lebih berhati-hati untuk tidak mudah menyakiti orang. Lebih menjaga salat. Lebih sedikit mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan kita bawa pulang.

Karena selama hidup, kita sering berkata: “nanti”. Padahal kita tidak pernah diberi tahu, apakah ‘nanti” itu masih milik kita atau tidak. Karena kematian bukan hanya tentang bagaimana kita pergi. Tapi tentang seperti apa kita hidup sebelum pergi.

Hari ini, coba berhenti sebentar:

  • Lihat salatmu
  • Lihat lisanmu
  • Lihat hubunganmu dengan orang tua
  • Lihat hati yang masih menyimpan dendam
  • Lihat dosa yang masih sengaja diulang.

Kalau hari ini ternyata menjadi hari terakhirmu, apa yang paling ingin kamu perbaiki? Mungkin jangan tunggu besok. Mulai dari satu hal hari ini.

Semoga Allah memberi kita husnul khatimah, dan memudahkan kita mempersiapkan bekal sebelum kembali kepada-Nya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search