KB TK Aisyiyah Bustanul Athfal 1 Buduran Sidoarjo Gelar Parenting Bertema “Biar Anak Nggak Rapuh”

KB TK Aisyiyah Bustanul Athfal 1 Buduran Sidoarjo Gelar Parenting Bertema “Biar Anak Nggak Rapuh”
www.majelistabligh.id -

KB TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 1 Buduran menggelar program tahunan parenting pada Sabtu (1/11/2025) di Masjid Al Furqon, Dukuhtengah, Buduran, Sidoarjo. Kegiatan ini mengusung tema “Biar Anak Nggak Rapuh: Cara Menghadapi Bullying dan Rasa Kecewa pada Anak” dengan menghadirkan narasumber seorang psikolog yang kerap menangani kasus perundungan remaja dan orang tua, Sinta Yudisia Wisudanti, M.Psi., Psikolog.

Dalam pemaparannya, Bunda Sinta, sapaan akrabnya, mengutip Q.S. Luqman ayat 17 yang menjadi dasar penting dalam mendidik anak melalui salat, amar ma’ruf nahi munkar, dan kesabaran.

“Wahai anakku, laksanakanlah salat dan suruhlah manusia berbuat ma’ruf dan cegahlah dari yang munkar. Dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu, kalau kamu dimarahin guru, kalau kamu sedang di-bully teman, bersabar terhadap apa yang menimpa kamu. Yang begitu adalah termasuk ke dalam perkara yang baik,” jelasnya.

Penulis sekaligus traveller tersebut menjelaskan bahwa tantangan orang tua masa kini semakin kompleks, terutama dalam menghadapi anak generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir sejak tahun 2010. Menurutnya, lingkungan bermain yang berubah, kemajuan teknologi, dan penggunaan gawai yang masif menjadi tantangan tersendiri.

“Jadi tidak mungkin anak-anak zaman sekarang nggak pegang HP. Maka kemudian sebagai orangtua lah yang harus beradaptasi dengan gawai ini sehingga mereka tidak menjadi pelaku maupun korban bullying, dan anak kita tidak rapuh nanti. Jika hal itu masih ditemukan, dia sebagai pelaku ataupun korban, tugas orangtua adalah mencatat setiap hal yang dilakukan anak sebagai track agar bisa ditelusuri penyebab awalnya bagaimana,” ujarnya.

Ibu dari empat orang anak itu menambahkan, anak-anak generasi Alpha dikaruniai IQ tinggi dan kemampuan belajar yang cepat, terutama dalam hal teknologi.

“Kalau anak dengan IQ tinggi, pegang HP, kira-kira lebih pinter ibunya atau anaknya?” tanyanya yang disambut gelak tawa para wali murid. Dengan kompak mereka menjawab, “Anaknya.”
“Betul, anaknya yang lebih pintar. Inilah kelebihan dari gen Alpha yang disebut dengan digital native,” tambahnya.

Namun, lanjutnya, fenomena tersebut memunculkan tantangan baru seperti berkurangnya koneksi sosial, menurunnya rentang perhatian hingga kurang dari tiga menit, serta meningkatnya gangguan kecemasan.

“Akhirnya apa yang terjadi? Mereka tidak bisa membedakan ini dunia nyata, ini dunia maya. Mereka menganggap orang tuanya tidak menyayanginya, padahal jelas orangtua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun ia akan lebih memilih bergaul dengan teman-teman yang klik dengan mereka. Saking mereka tidak bisa membedakan dengan dunia nyata,” paparnya.

Sebagai pengamat pop culture, Bunda Sinta memaparkan tiga kunci prinsip dasar dalam mendidik anak, yaitu pola pikir, perasaan-emosi, dan perilaku.

“Jika dari pola pikir tidak benar, contohnya anak merasa tidak ada yang menyayanginya, hal itu akan menimbulkan perasaan yang mudah cemas, marah, bahkan frustrasi. Hasilnya akan muncul perilaku negatif seperti agresif, suka memukul, menarik diri, atau menjadi pelaku maupun korban perundungan. Ketika pola pikir mereka benar, akhirnya emosi mereka juga pasti tepat, yang mana akan menghasilkan perilaku yang positif juga,” tambahnya.

Menurutnya, perilaku perundungan dapat muncul karena berbagai faktor seperti keinginan memperoleh kekuasaan, menyembunyikan rasa takut, perbedaan kemampuan, atau mencontoh orang lain. Bahkan, tak jarang pelaku perundungan merupakan korban dari masalah rumah tangga atau perundungan itu sendiri.

“Tidak ada satupun yang bisa menghentikan perundungan melainkan dengan kerjasama antara orang tua, anak, dan guru,” tegasnya.

Bunda Sinta menjelaskan bahwa kolaborasi antara sekolah dan rumah sangat berperan dalam mengubah pola pikir pelaku maupun korban perundungan. Sekolah, misalnya, dapat menyediakan support system berupa figur yang disegani oleh anak-anak agar mereka mampu memahami makna dan emosi yang sedang dirasakan. Dengan demikian, pelaku tidak merasa rendah diri, sementara korban menjadi lebih kuat dan berani.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan ruang dan stimulasi agar anak berani speak up atau mengungkapkan perasaannya.

“Berikan anak ruang dalam memberikan pendapatnya dengan nyaman sehingga tidak ada perasaan yang terpendam di dalam diri anak. Orang tua juga harus mampu mewadahi emosi anak yang meluap sehingga dapat tersalurkan ke dalam hal yang lebih positif,” ujarnya. “Jadi intinya banyak ajak anak untuk berbicara,” ungkapnya.

Menurutnya, orang tua perlu membantu anak memvalidasi perasaannya, agar anak merasa aman dan diterima meski sedang mengalami emosi negatif seperti sedih, marah, atau kecewa.

“Ketika pikirannya positif, ia akan bertingkah laku positif juga,” imbuhnya.

Acara ditutup dengan tips menghadapi generasi Alpha melalui roleplay dan literasi.

“Sekarang sudah banyak buku-buku dari Kemendikbud yang bisa diakses online, ya. Bunda-bunda bisa membacanya atau mengubahnya dalam bentuk audio teks yang bisa menarik perhatian mereka. Selain itu, roleplay juga bagus sekali dalam memberikan nilai-nilai, seperti berperan bagaimana kalau kita dipukul apa yang harus kita lakukan, lalu ganti kalau kita memukul orang apa akibatnya,” pungkasnya. (ramadhani qonitah mursyida)

Tinggalkan Balasan

Search