Kebaikan yang Tersembunyi Suatu Saat akan Allah SWT Tampakkan

Kebaikan yang Tersembunyi Suatu Saat akan Allah SWT Tampakkan

*)Oleh: Nurkhan
Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik.

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pria tua bernama Pak Hasan. Ia dikenal sebagai orang yang sederhana dan tidak menonjol. Setiap hari, sebelum Subuh, ia berkeliling desa, memastikan masjid bersih, sajadah tertata rapi, dan air wudu tersedia. Ia melakukannya dalam diam, tanpa ada yang tahu.

Tak hanya itu, jika ada tetangga yang kesulitan, ia selalu membantu, entah dengan memberikan sekantong beras di depan pintu rumah mereka atau membayar utang orang lain secara diam-diam. Namun, ia tak pernah menceritakan kebaikannya kepada siapa pun.

Hingga suatu hari, Pak Hasan meninggal dunia. Saat pemakamannya, banyak orang yang datang dengan wajah penuh haru. Satu per satu, orang-orang bercerita tentang bagaimana mereka pernah dibantu olehnya.

Ada yang pernah menerima makanan di saat kelaparan, ada yang hutangnya tiba-tiba dilunasi, dan ada pula yang selama ini merasa lebih mudah beribadah berkat kebersihan masjid yang selalu terjaga.

Saat itulah semua orang sadar, betapa banyak kebaikan yang telah Pak Hasan lakukan tanpa mengharapkan pujian. Ia meninggalkan dunia tanpa membawa apa-apa, tetapi namanya tetap hidup di hati orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.

Allah pun menunjukkan amalannya yang tersembunyi kepada semua orang, sebagai bukti bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, tak akan pernah sia-sia.

Saudara-saudaraku, inilah bukti bahwa kebaikan yang kita lakukan, meskipun tersembunyi, suatu saat akan Allah tampakkan dengan cara-Nya yang indah. Mari kita terus berbuat baik tanpa mengharapkan balasan dari manusia, karena Allah Maha Melihat dan tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Terdapat beberapa dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadis Nabi SAW yang menguatkan cerita di atas.

1. Hadis Riwayat Imam Tabrani dalam kitab Al Mu:jam Al Kabair

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: “مَا أَسَرَّ أَحَدٌ سَرِيرَةً، إِلَّا أَلْبَسَهُ اللَّهُ رِدَاءَهَا، إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ، وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ”

Artinya: “Tidaklah seseorang menyembunyikan suatu niat atau perbuatan (baik atau buruk), melainkan Allah akan mengenakan kepadanya pakaian (pengaruh) dari perbuatannya itu. Jika itu baik, maka baiklah balasannya, dan jika itu buruk, maka buruk pula akibatnya.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 11115, dihasankan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 3442).

Hadits ini menunjukkan bahwa amal seseorang, baik yang tersembunyi maupun yang nyata, akan Allah tampakkan pada waktunya. Jika seseorang melakukan kebaikan dengan ikhlas, meskipun tidak ada yang mengetahuinya, suatu saat Allah akan memperlihatkan pengaruh baik dari amal tersebut di dunia atau di akhirat.

2. Al-Qur’an: Surah Az-Zalzalah Ayat 7-8

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ ﴿٧﴾ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ ﴿٨﴾

Artinya:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Ayat ini menegaskan bahwa sekecil apa pun kebaikan atau keburukan seseorang, pasti akan diperlihatkan dan dibalas oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

3. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُخْفِي لِعَبْدٍ عَمَلًا، فَإِذَا هُوَ حَسَنٌ زَيَّنَهُ اللَّهُ، وَإِذَا هُوَ سَيِّئٌ قَبَّحَهُ اللَّهُ

Artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyembunyikan amal seorang hamba. Jika amal itu baik, maka Allah akan memperindahnya, dan jika amal itu buruk, maka Allah akan memperburuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa kebaikan seseorang yang tersembunyi akan Allah tampakkan dan akan membawa kemuliaan baginya. Sebaliknya, jika amalnya buruk, Allah juga akan menampakkannya sebagai bentuk peringatan dan pembalasan.

Agar kebaikan yang tersembunyi benar-benar bernilai di sisi Allah dan suatu saat ditampakkan dengan cara yang baik, ada beberapa syarat utama yang harus dipenuhi:

1. Ikhlas Karena Allah

Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat murni karena-Nya, bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari manusia.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan (balasan) sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. Bukhari No. 1, Muslim No. 1907)

Syaratnya: Jangan ada niat riya’ (ingin dipuji) atau sum’ah (ingin terkenal).

2. Sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW

Amalan harus dilakukan dengan cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW agar diterima oleh Allah.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:
“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalannya tertolak.”
(HR. Muslim No. 1718)

Syaratnya: Jangan beribadah atau berbuat baik dengan cara yang bertentangan dengan syariat Islam.

3. Tidak Dicampuri dengan Kemaksiatan

Kebaikan yang dilakukan seseorang akan lebih bernilai jika ia juga menjauhi perbuatan maksiat, karena dosa bisa menghapus pahala kebaikan.

إِنَّ ٱللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim No. 1015)

Syaratnya: Pastikan sumber amal baik (misalnya sedekah) berasal dari harta halal dan dilakukan dengan cara yang benar.

4. Tidak Perlu Diumbar (Jika Bisa Disembunyikan)

Sebaiknya amal kebaikan tetap disembunyikan kecuali jika dengan menampakkannya bisa menjadi teladan bagi orang lain.

إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۚ

Artinya:
“Jika kalian menampakkan sedekah (itu) baik, tetapi jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagi kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 271)

Syaratnya: Jika memungkinkan, sembunyikan kebaikan agar lebih bernilai di sisi Allah.

5. Istikamah (Konsisten dalam Kebaikan)

Allah lebih mencintai amal yang kecil tapi terus-menerus daripada amal besar yang hanya sekali-sekali.

أَحَبُّ ٱلْأَعْمَالِ إِلَى ٱللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِن قَلَّ

Artinya:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari No. 6464, Muslim No. 2818)

Syaratnya: Jangan hanya berbuat baik sesekali, tetapi jadikan sebagai kebiasaan.

Jadi, kesimpulannya agar kebaikan yang tersembunyi benar-benar bernilai dan suatu saat ditampakkan oleh Allah dengan cara yang baik, maka:

1. Ikhlas karena Allah.
2. Sesuai Sunnah Rasulullah SAW.
3. Tidak dicampur maksiat.
4. Lebih baik disembunyikan jika memungkinkan.
5. Dilakukan secara istikamah

Jika semua syarat ini terpenuhi, maka insyaAllah kebaikan itu akan menjadi investasi yang Allah tampakkan dengan cara yang terbaik di dunia maupun di akhirat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *