*) Oleh: Muhammad Nashihudin, MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Risalah Islam telah disampaikan oleh para nabi dan rasul ke seluruh penjuru dunia sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia. Di era modern ini, akses terhadap ajaran Islam semakin mudah. Siapa pun dapat mengenal Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Namun, jika masih ada orang yang belum mendapatkan hidayah atau tidak mengenal Islam, maka urusan mereka kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pasti, Islam telah disempurnakan sebagai agama dan satu-satunya jalan hidup yang diakui serta diridai oleh-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.“
(QS. Al-Baqarah: 6–7)
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima oleh Allah sebagai dien (agama), sedangkan jalan selainnya tidak akan diterima dan dianggap tidak sah menurut pandangan Ilahi.
1. Islam: Agama yang Lurus, Sempurna, dan Diridai
Islam bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga panduan hidup yang lengkap dan menyeluruh. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, Islam adalah satu-satunya agama yang diterima:
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Dengan keyakinan ini, umat Islam dituntut untuk meyakini bahwa Islam adalah jalan keselamatan dan sumber nilai ilahi bagi seluruh umat manusia.
2. Tidak Ada Konsep Penebusan Dosa dalam Islam
Islam mengajarkan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas dosa dan amalnya sendiri. Tidak ada konsep tebusan atau pengorbanan orang lain untuk menghapus dosa pribadi. Allah Ta’ala berfirman:
“Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong.”
(QS. Ali ‘Imran: 91)
Ayat ini menolak konsep keselamatan melalui perantara atau pengganti. Hanya amal shaleh dan iman yang dapat menjadi jalan keselamatan di sisi Allah.
2.Kajian Tafsir Ibnu Katsir tentang ganjaran orang orang kafir.
(QS Al Araf 41-42)
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (40) لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (41) }
Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim.
Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ}
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit. (Al-A’raf: 40)
Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah tiada suatu amal saleh pun dan tiada suatu doa pun bagi mereka yang dinaikkan ke langit (yakni tidak diterima). Demikianlah menurut Mujahid dan Sa’id ibnu Jubair, dan menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Aufi dan Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas. Hal yang sama dikatakan oleh riwayat As-Sauri, dari Lais, dari Ata, dari Ibnu Abbas.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah tidak dibukakan pintu-pintu langit bagi arwah mereka. Demikianlah menurut riwayat Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas; juga dikatakan oleh As-Saddi serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Pendapat ini diperkuat oleh apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir. Yaitu:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْب، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ المِنْهَال -هُوَ ابْنُ عَمْرٍو -عَنْ زَاذَانَ، عَنِ الْبَرَاءِ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ قَبْض رُوحِ الْفَاجِرِ، وَأَنَّهُ يُصْعَد بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، قَالَ: “فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا تَمُرُّ عَلَى مَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا: مَا هَذِهِ الرُّوحُ الْخَبِيثَةُ؟ فَيَقُولُونَ: فَلَانٌ، بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُدْعَى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ، فَيَسْتَفْتِحُونَ بَابَهَا لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ”. ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ [وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ] } الْآيَةَ.
telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib. telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ayyasy, dari Al-A’masy, dari Al-Minhal (yaitu Ibnu Amr), dari Zazan, dari Al-Barra, bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah menceritakan perihal pencabutan nyawa orang yang ahli maksiat. Lalu rohnya dibawa naik ke langit, dan mereka (para malaikat) yang membawanya tidak sekali-kali melewati segolongan malaikat, melainkan mereka yang dijumpai mengatakan, “Siapakah yang rohnya seburuk itu?” Maka para malaikat yang membawanya menjawab, “Rohnya si Jahat anu,” dengan menyebut nama julukannya yang paling buruk ketika di dunia. Setelah mereka sampai di pintu langit dengan roh tersebut, mereka minta izin untuk dibukakan pintu bagi roh itu. Tetapi ternyata roh itu tidak diizinkan masuk, pintu langit tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) membacakan firman-Nya: sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit. (Al-A’raf: 40), hingga akhir ayat.
