Kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tak hanya bertumpu pada tingginya modal sosial dan kepercayaan publik, tetapi juga pada keberanian serta keluasan hati dalam menerima kritik dari internal organisasi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam acara Bedah Buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaruan di Aula Gedung PP Muhammadiyah, Rabu (30/9/2026).
Busyro mengapresiasi kehadiran buku karya para kader Persyarikatan tersebut. Menurutnya, penulis menggunakan pendekatan fenomenologi yang tidak sekadar melontarkan kritik, melainkan berbasis data dan tanggung jawab intelektual.
“Saya mengapresiasi para penulis yang mampu membaca dinamika organisasi dan memotivasi pembaruan lewat pendekatan kritis,” ujar Busyro.
Ia menambahkan, karya ini bukan sekadar dokumentasi ilmiah, melainkan bukti hidup suburnya kultur demokrasi di tubuh organisasi. Ruang bagi kader untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, hingga kritik konstruktif dinilai tetap terbuka lebar.
Sementara itu, editor buku, David Efendi, menyebutkan bahwa seluruh penulis yang terlibat merupakan kader murni Muhammadiyah. “Hanya mereka yang memiliki Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) yang diperkenankan menulis dalam buku ini,” tegas David.
Selain membahas buku, Busyro turut mengingatkan pentingnya merawat integritas gerakan di tengah dinamika sosial-politik saat ini. Ia mengimbau para kader dan tokoh Persyarikatan agar tetap istikamah di jalur khidmat dakwah serta mewaspadai godaan politik praktis maupun proyek yang dapat mengaburkan arah gerakan dakwah berkemajuan.
Lahirnya buku ini, tegas Busyro, menjadi bukti nyata bahwa semangat pembaruan di tubuh Muhammadiyah tidak pernah padam. Kritik yang disampaikan justru menjadi daya dorong untuk memperkuat nalar kritis dan menjaga keberlanjutan gerakan. (*/tim)
