“True wealth is not measured by the amount of wealth you have, but measured by your heart that feels enough”
“(Kekayaan sejati bukan diukur dari banyaknya harta yang kamu miliki, melainkan diukur dari hatimu yang merasa cukup)”
Seringkali kita melihat kekayaan melimpah dan jabatan tinggi sebagai puncak kebahagiaan. Namun, realitanya, banyak yang memiliki segalanya tapi tak pernah merasakan kedamaian dan ketenangan. Harta yang berlimpah, jika tak diperoleh secara halal, bisa menjadi sumber kegelisahan.
Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا() إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا () وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Artinya:
”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir.” (Qs. Al-Ma’arij : 19-21)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sifat dasar manusia cenderung serakah dan tidak pernah puas, membuat harta tak pernah cukup. Rezeki yang berkah tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, melainkan dari kebermanfaatan dan ketenangan yang dirasakan. Kedamaian hati dan kemuliaan sejati datang dari keberkahan, bukan dari banyaknya harta. Dalam hadis, Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya:
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari No. 6446 dan Muslim No. 1051)
Oleh sebab itu, keberkahan sejati bukanlah tentang harta melimpah atau jabatan tinggi, melainkan tentang hati yang kaya, rezeki yang halal, dan jiwa yang tenteram.
Semoga bermanfaat.
