Kebiasaan Belum Tentu Benar, Tapi yang Benar Harus Dibiasakan

Kebiasaan Belum Tentu Benar, Tapi yang Benar Harus Dibiasakan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Banyak perilaku yang dilakukan berulang kali oleh individu atau masyarakat, namun tidak selalu sesuai dengan nilai kebenaran, etika, atau fitrah.
* Contoh: praktik korupsi yang dianggap “lumrah”, atau pola asuh yang keras karena “sudah biasa begitu”.

Tapi yang benar harus dibiasakan
* Kebenaran, meskipun awalnya asing atau sulit, perlu diperjuangkan agar menjadi bagian dari budaya dan karakter.
* Ini adalah ajakan untuk membentuk peradaban yang berakar pada nilai-nilai luhur, bukan sekadar rutinitas.

Antara Rutinitas dan Kebenaran
Kebiasaan ≠ Kebenaran
* Kebiasaan adalah hasil dari pengulangan, bukan dari pertimbangan nilai.
* Sesuatu bisa menjadi “biasa” karena diwariskan, ditoleransi, atau tidak pernah dipertanyakan.
* Contoh: budaya menyontek, kekerasan verbal dalam rumah tangga, atau birokrasi yang tidak melayani.

Kebenaran = Sesuatu yang Sesuai Fitrah dan Nilai Ilahiah
* Kebenaran bersifat transenden, tidak tergantung pada popularitas atau kebiasaan.
* Dalam konteks Qur’ani, kebenaran adalah apa yang sesuai dengan fitrah, adil, dan membawa maslahat.

Paradoks Peradaban
* Banyak masyarakat terjebak dalam “normalisasi penyimpangan”.
* Maka, tugas para pendidik, pemimpin, dan orang tua adalah menggeser kebiasaan menuju kebenaran, bukan sekadar mempertahankan tradisi.

Mengapa Kebenaran Sulit Dibiasakan?
Zona Nyaman dan Resistensi
* Otak manusia cenderung mempertahankan kebiasaan karena hemat energi.
* Perubahan ke arah kebenaran sering dianggap “mengganggu” atau “tidak praktis”.

Kebenaran Butuh Keteladanan dan Konsistensi
* Tidak cukup hanya tahu yang benar—harus ada proses habituasi.
* Ini menuntut kesabaran, keberanian, dan komunitas pendukung.

Bahaya Kebiasaan Tanpa Refleksi
* Kebiasaan yang tidak dikaji bisa menjadi “penjara tak terlihat”.
* Maka, refleksi adalah kunci: apakah yang kita lakukan benar, atau hanya karena terbiasa?

Menerjemahkan ke dalam Aksi:
Dalam Pendidikan
* Biasakan anak untuk jujur, bukan hanya menghukum saat berbohong.
* Biasakan guru untuk reflektif, bukan hanya mengulang silabus.

Dalam Kepemimpinan
* Biasakan transparansi dan pelayanan, bukan sekadar formalitas.
* Biasakan musyawarah dan mendengar, bukan hanya memberi instruksi.

Dalam Keluarga
* Biasakan komunikasi penuh kasih, bukan hanya otoritas.
* Biasakan doa dan syukur, bukan hanya keluhan dan tuntutan.

Beberapa ayat Al-Qur’an menegaskan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh kebiasaan atau jumlah pengikut, dan bahwa kebenaran harus diikuti meskipun bertentangan dengan tradisi atau mayoritas.

1. QS Al-Hujurat (49): 14
۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ
Artinya: Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu.

Makna:
Kebiasaan mengaku beriman tidak menjamin kebenaran. Kebenaran harus dibiasakan melalui penghayatan dan pembiasaan iman yang sejati, bukan sekadar klaim atau rutinitas.

2. QS Hud (11): 40
وَمَآ اٰمَنَ مَعَهٗٓ اِلَّا قَلِيْلٌ
Artinya: Ternyata tidak beriman bersamanya (Nuh), kecuali hanya sedikit.

Makna:
Mayoritas tidak selalu berada di pihak yang benar. Nabi Nuh hanya diikuti oleh segelintir orang, namun merekalah yang mengikuti kebenaran. Ini menegaskan bahwa kebiasaan atau jumlah pengikut bukanlah ukuran kebenaran.

3. QS Al-Baqarah (2): 170
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak. Kami tetap mengikuti kebiasaan yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka (itu) tidak mengerti apa pun dan tidak mendapat petunjuk?

Makna:
Tradisi dan kebiasaan nenek moyang tidak selalu benar. Al-Qur’an mengkritik sikap membenarkan kebiasaan tanpa menimbang kebenarannya. Kebenaran harus dibiasakan meski bertentangan dengan tradisi.

4. QS Al-Isra (17): 81
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
Artinya: Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.

Makna:
Kebenaran memiliki daya transformasi. Meski kebatilan telah menjadi kebiasaan, ia akan sirna jika kebenaran dibiasakan dan ditegakkan.

Prinsip Umum dalam Al-Qur’an
* Al-Haq (الحق) adalah kebenaran yang datang dari Allah, bukan dari kebiasaan manusia.
* Ash-Shidq (الصدق) adalah kejujuran yang harus menjadi karakter, bukan hanya slogan.
* Al-Qur’an menyeru untuk mengikuti kebenaran meski bertentangan dengan arus mayoritas.

 

Tinggalkan Balasan

Search