Kebodohan Digital di Tengah Banjir Informasi

Kebodohan Digital di Tengah Banjir Informasi
www.majelistabligh.id -

Pergeseran tantangan zaman menuntut Muhammadiyah untuk terus bertransformasi. Jika pada awal kelahirannya Muhammadiyah berhadapan dengan kemiskinan dan kebodohan fisik, kini persyarikatan menghadapi dinamika baru: kemiskinan makna di tengah kelimpahan materi, serta kebodohan digital di tengah banjir informasi.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dadang Kahmad, dalam Gerakan Subuh Mengaji bertema “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” yang digelar Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, Jumat (9/10/2026).

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pesatnya kecanggihan teknologi tidak otomatis menghapus dahaga manusia akan makna hidup. Algoritma canggih sekalipun tidak mampu menjawab pencarian eksistensial manusia tanpa hadirnya agama.

“Semakin canggih teknologi, semakin manusia membutuhkan jawaban yang tak bisa diselesaikan oleh algoritma. Agama masa depan harus mampu memberikan arah moral bagi kemajuan iptek, sekaligus memberi kedalaman spiritual bagi kehidupan manusia,” papar Dadang.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya agama bersinergi dengan sains dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Agama tidak boleh bersikap dikotomis, melainkan wajib menjaga wahyu, menghidupkan akal, membangun akhlak, menghargai ilmu, merawat bumi, serta menghadirkan kemaslahatan semesta.

Sinergi Teknologi dan Inovasi Persyarikatan

Sejak awal, Muhammadiyah memandang agama dan ilmu pengetahuan saling melengkapi. Prinsip ini diwujudkan lewat berbagai langkah adaptasi digital, seperti pengembangan ekosistem data terpadu Satu Data Muhammadiyah (SATUMU) hingga aplikasi MASA untuk pendaftaran keanggotaan berbasis e-KTAM.

Dadang turut mengajak kader dan simpatisan aktif memproduksi narasi positif di media sosial untuk menyebarkan praktik baik organisasi. Apalagi, Muhammadiyah kini menjadi rujukan kebanggaan dunia Islam internasional dalam mengelola lembaga pendidikan modern, rumah sakit, hingga panti asuhan.

Kendati demikian, Dadang mengingatkan agar seluruh warga persyarikatan tidak cepat berpuas diri. Terobosan dan inovasi konkrit Muhammadiyah di abad kedua masih sangat dinantikan oleh masyarakat global. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search