Kebohongan Ibu yang Melindungi

Kebohongan Ibu yang Melindungi
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Kadang seorang ibu “berbohong” untuk menjaga hati anaknya, bukan untuk menipu, tetapi untuk menenangkan, menunda beban, atau memberi ruang tumbuh. Ini bukan dusta destruktif, melainkan bentuk kasih sayang.

Ibu pembohong itu kata Komeng. Betul seorang ibu dalam hidupnya membuat banyak kebohongan. Saat makan, jika makanan kurang ia akan berikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, cepatlah makan ibu tidak lapar, waktu tersisa hanya ikan dan daging ia pun berkata ibu tidak suka daging makanlah nak.

Tengah malam saat dia sedang sakit menjaga anaknya yang sedang sakit, ia akan berkata istirahatlah nak ibu masih belum mengantuk. Saat anak sudah lulus bekerja dan mengirim uang untuk ibunya, ia berkata simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang. Saat anak sudah sukses menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, ia selalu berkata rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana.

Saat menjelang tua ibu sakit keras anak akan menangis, ibu masih tetap bisa tersenyum sambil berkata jangan menangis, ibu tidak apa-apa. Itulah kebohongan terakhir yang akan dibuat oleh ibu. Tidak peduli seberapa dewasanya kita, ia selalu menganggap kita anak kecilnya, menghawatirkan diri kita tapi tidak perlu dan tidak mau anak-anak menghawatirkannya. Semoga semua anak di dunia bisa menghargai setiap kebohongan ibunya.

Ibu percayalah di dalam doa kami anak-anakmu namamu pun tak pernah putus kami sebut. Kami terlahir dari cinta, dan cinta itu ibu.

1. Kebohongan sebagai Selimut Keamanan
Ada saat ketika seorang ibu berkata:
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu di sini.”
Padahal hatinya sendiri sedang retak.
Ia menutupi retaknya bukan untuk menipu, tetapi untuk memberi ruang aman agar anak tetap tumbuh tanpa beban yang belum waktunya ia pikul.
Ini adalah kebohongan yang bersifat protektif, bukan manipulatif.

Ayat yang Menjelaskan Penyembunyian Kebenaran dalam Keadaan Terpaksa
a. QS. Al‑Baqarah 2:42
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan21) dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya).
21) Yang dimaksud dengan kebatilan adalah kesalahan, kejahatan, kemungkaran, dan sebagainya.

Namun, dari ayat ini para ulama menjelaskan bahwa menyembunyikan kebenaran secara sengaja adalah terlarang, kecuali dalam kondisi darurat yang dibenarkan syariat, seperti menjaga nyawa.

b. QS. An‑Nahl 16:106
مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Artinya: Siapa yang kufur kepada Allah setelah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa (mengucapkan kalimat kekufuran), sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya (dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang berlapang dada untuk (menerima) kekufuran, niscaya kemurkaan Allah menimpanya dan bagi mereka ada azab yang besar.

Ayat ini tidak muncul dalam hasil pencarian, tetapi secara umum dikenal dalam tafsir sebagai dalil bahwa seseorang boleh menyembunyikan iman atau mengatakan sesuatu yang tidak ia yakini jika ia dipaksa dan terancam nyawanya.
Ini bukan “kebohongan kasih”, tetapi kebohongan darurat.

2. Kebohongan sebagai Jembatan Waktu
Kadang seorang ibu menunda kebenaran:
“Besok kita bisa beli itu.”
Padahal ia belum tahu bagaimana caranya.
Ia butuh waktu untuk mencari solusi, menata ulang harapan, atau sekadar menenangkan badai.
Ini adalah kebohongan yang memberi jeda, bukan pelarian.

Ayat yang relevan dengan “Jembatan Waktu”
a. QS. Al‑An‘am 6:5
فَقَدْ كَذَّبُوْا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۗ فَسَوْفَ يَأْتِيْهِمْ اَنْۢبـٰۤؤُا مَا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
Artinya: Sungguh, mereka telah mendustakan kebenaran (Al-Qur’an) ketika sampai kepada mereka. Maka, kelak akan sampai kepada mereka berita-berita (tentang kebenaran) sesuatu yang selalu mereka perolok-olokkan.

Ayat ini menjelaskan bahwa ketika manusia menolak atau menunda kebenaran, pada waktunya kebenaran itu akan datang dengan sendirinya:

Ayat ini menunjukkan bahwa:
* kebenaran tidak selalu langsung diterima,
* ada proses waktu,
* dan Allah memberi ruang sebelum kebenaran itu akhirnya tampak jelas.
Ini sangat dekat dengan ide “jembatan waktu”, bahwa ada masa transisi antara ketidaksiapan dan kemunculan kebenaran.

b. QS. Al‑Isrā’ 17:81
وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا
Artinya: Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.

Ayat ini tidak berbicara tentang kebohongan, tetapi tentang proses hilangnya kebatilan secara bertahap, sebuah perjalanan waktu menuju kejelasan.

3. Kebohongan sebagai Bahasa Cinta yang Canggung
Tidak semua ibu pandai mengekspresikan kasih.
Ada yang mencintai dengan cara menyembunyikan rasa sakitnya, agar anak tidak ikut terluka.
Ada yang menutupi kekurangannya agar anak tetap percaya pada dunia.
Ini adalah kebohongan yang lahir dari cinta, bukan dari niat buruk.

Ayat yang Paling Dekat dengan “Bahasa Cinta yang Canggung”
a. QS. Ali ‘Imran 3:29
قُلْ اِنْ تُخْفُوْا مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ اَوْ تُبْدُوْهُ يَعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗوَيَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ayat ini tidak berbicara tentang kebohongan, tetapi tentang perasaan yang disembunyikan, kerentanan, cinta, takut, rindu, atau luka yang tidak diucapkan.
Ia mengakui bahwa manusia sering:
* menyimpan sesuatu dalam dada,
* tidak mengungkapkan semuanya,
* memilih diam demi menjaga hubungan,
* atau menunda kejujuran karena belum siap.

 

Tinggalkan Balasan

Search