Kedurhakaan Profetik Sebagai Akar Kerusakan Tatanan Sosial

Kedurhakaan Profetik Sebagai Akar Kerusakan Tatanan Sosial
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatiim
www.majelistabligh.id -

Kekuasaan dalam perspektif Islam bukanlah tujuan, melainkan amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Ketika orientasi akhirat dihilangkan dari cara pandang penguasa, kekuasaan berubah dari sarana kemaslahatan menjadi instrumen penindasan. Sejarah manusia memperlihatkan bahwa kerusakan sosial, ketimpangan ekonomi, dan rusaknya ikatan kekeluargaan seringkali berakar dari kekuasaan yang dijalankan tanpa kesadaran akan hisab dan balasan akhirat.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan bahwa kekuasaan yang dilepaskan dari nilai iman akan melahirkan dua penyakit besar, kerusakan di muka bumi, dan terputusnya hubungan kekeluargaan. Keduanya bukan sekadar akibat sampingan, tetapi konsekuensi logis dari kekuasaan yang tidak amanah dan tidak berorientasi pada nilai-nilai profetik.

Kedzaliman Kekuasaan

Ketika kekuasaan tidak dipandang sebagai amanah, akan melahirkan kedzaliman struktural. Dalam konteks ini, kedzaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi sering menjelma menjadi kebijakan yang menindas, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta pembiaran terhadap ketidakadilan sosial. Dengan kata lain, kekuasaan yang tidak amanah akan melahirkan kedzaliman sehingga merusak hubungan sosial dan kekeluargaan.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa kekuasaan yang tidak amanah akan melahirkan perilaku merusak yang membahayakan tatanan sosial, dan yang paling membahayakan justru merusak kekeluargaan. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ وَتُقَطِّعُوْۤا اَرْحَا مَكُمْ

Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad :  22)

Ayat ini menggambarkan hubungan langsung antara kekuasaan dan rusaknya relasi sosial. Ketika penguasa tidak takut kepada Allah, mereka dengan mudah merampas hak rakyat, memonopoli sumber daya, dan mengorbankan kepentingan keluarga-keluarga kecil demi stabilitas kekuasaan. Contohnya terlihat ketika kebijakan ekonomi dibuat tanpa empati, harga kebutuhan pokok melonjak, lapangan kerja menyempit, sementara elite kekuasaan hidup dalam kemewahan, dan hidup bermegah-megahan.

Akibatnya, kepala keluarga tertekan, konflik rumah tangga meningkat, anak-anak terabaikan, dan hubungan kekerabatan renggang karena tekanan ekonomi. Bahkan, tidak jarang saudara saling bermusuhan akibat perebutan sumber daya yang semakin langka. Inilah wajah kekuasaan yang dzalim:. Penguasa yang dzalim bukan hanya merusak negara, tetapi menghancurkan sendi-sendi keluarga sebagai unit dasar masyarakat.

Kedurhakaan Profetik

Selain kedzaliman kekuasaan, kerusakan sosial juga lahir dari kedurhakaan profetik, yakni sikap hidup yang menafikan akhirat dan menganggap harta serta kekuasaan sebagai hasil usaha pribadi semata. Cara pandang ini melahirkan penguasa dan elite yang tenggelam dalam gaya hidup mewah, sementara penderitaan rakyat dianggap sebagai masalah biasa.

Sebagai penguasa memperoleh kelapangan dan fasilitas. Kelapangan itu dihabiskan untuk bersenang-senang tanpa mempedulikan kondisi rakyatnya. Hal ini tidak lepas dari cara pandang bahwa kekuasaan yang diperoleh sebagai hasil jerih payahnya, tanpa mengaitkan dengan karunia Allah. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَلَى النَّا رِ ۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبٰـتِكُمْ فِيْ حَيَا تِكُمُ الدُّنْيَا وَا سْتَمْتَعْتُمْ بِهَا ۚ فَا لْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَا بَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْـتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (seraya dikatakan kepada mereka), “Kamu telah menghabiskan (rezeki) yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang (menikmati)nya; maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran, dan karena kamu berbuat durhaka (tidak taat kepada Allah).” (QS. Al-Ahqaf : 20)

Al-Qur’an mengarahkan cara hidup yang keluar dari tatanan Islam, dengan mengaitkan cara hidup orang kafir. Orang-orang kafir yang tidak mengenal akhirat hidup dalam kemewahan tanpa kepedulian terhadap nasib kaum lemah. Dalam konteks kekuasaan, sikap ini tampak ketika anggaran negara dihamburkan untuk fasilitas elite, pesta pora, dan simbol-simbol prestise, sementara rakyat kecil berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Kepekaan sosial mati karena orientasi hidup hanya tertuju pada kenikmatan dunia.

Dampaknya tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral. Ketika kemewahan dipertontonkan tanpa rasa malu, masyarakat terdorong pada budaya materialistik, iri hati, dan individualisme. Hubungan kekeluargaan yang seharusnya dibangun atas dasar kasih sayang dan saling menolong berubah menjadi relasi transaksional. Anak menilai orang tua dari materi, saudara menakar hubungan dengan keuntungan, dan solidaritas sosial pun runtuh.

Dengan demikian, kekuasaan yang tidak berorientasi akhirat merupakan akar utama kerusakan tatanan sosial dan kekeluargaan. Kedzaliman struktural dan kedurhakaan profetik berjalan beriringan, melahirkan masyarakat yang rapuh secara moral dan sosial. Islam menegaskan bahwa hanya dengan mengembalikan kekuasaan sebagai amanah dan menghidupkan kembali kesadaran akhirat, tatanan sosial yang adil dan hubungan kekeluargaan yang utuh dapat dipulihkan.

Dengan demikian, ketika kekuasaan tidak dipandang sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka akan memproduksi kejahatan sosial yang berpotensi besar menciptakan kerusakan tatanan sosial dan merenggangkan hubungan kekeluargaan. Dengan kata lain, ketika kekuasaan sudah keluar dan melanggar nilai-nilai profetik, maka kerusakan tatanan sosial dan retaknya hubungan kekeluargaan hanya menunggu waktu.

Surabaya, 20 Januari 2026

Tinggalkan Balasan

Search