Pernyataan “Kehidupan dunia ini adalah semu, kebahagiaan dan kesedihannya juga semu” mencerminkan pandangan bahwa dunia fana dan bersifat sementara. Ini sesuai ajaran agama yang mengajarkan bahwa kesenangan dan kesedihan duniawi hanyalah ujian dari Tuhan, bersifat sementara (fatamorgana), dan bukan tujuan akhir.
Oleh karena itu, penting untuk bersyukur saat senang dan bersabar saat sedih, sambil fokus pada kehidupan akhirat yang abadi, dengan mengingat bahwa kebahagiaan sejati terletak pada ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT, bukan pada kenikmatan dunia yang fana.
Kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Hal ini semakin memantapkan hati untuk menilai kehidupan dunia ini adalah semu. Kebahagiaannya semu. Demikian juga kesedihannya semu.
Adapun negeri akhirat adalah kehidupan hakiki yang kekal setelah kematian, tempat manusia menerima balasan setimpal atas amal perbuatannya di dunia, yang hanyalah persinggahan sementara. Akhirat adalah tujuan utama, tempat kebahagiaan atau kesengsaraan abadi yang ditentukan oleh amal saleh dan keimanan di dunia. Di akhirat alamnya meliputi kebangkitan, hisab (perhitungan amal), dan penetapan di surga atau neraka.
Negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmat dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di neraka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta.
Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah Azza wa Jalla. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian). Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.”
(QS. Al-Anbiya: 35).
Ikrimah rahimahullah pernah mengatakan,
ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر
“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”
Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti…
Allah Azza wa Jalla menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Allah Azza wa Jalla yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia hanya mengadu harap di hadapan Allah Azza wa Jalla. Merendah, bersimpuh pasrah kepada Allah Azza wa Jalla yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihi sallam,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf: 86)
Sungguh senantiasa ada hikmah dalam ketetapan Allah Azza wa Jalla Yang Maha Hakim (bijaksana) itu,
وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.”
(QS. An-Najm: 43)
Allah Azza wa Jalla berfirman,
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.”
(QS. At-Taubah: 40)
Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjadikan suka adalah syukur dan duka adalah sabar untuk meraih ridha-Nya. Bersyukur di saat senang dan bersabar di saat susah adalah prinsip kehidupan Muslim yang sempurna.
Dengan sikap ini artinya mengakui nikmat dan menggunakannya untuk kebaikan saat bahagia, serta tetap tenang, husnuzan (berprasangka baik) pada Allah. Sebaliknya tidak mengeluh saat diuji musibah, karena keduanya merupakan ibadah yang dicintai Allah dan menunjukkan keimanan yang utuh, menjadikan segala keadaan sebagai ladang pahala dan kedekatan dengan-Nya. (*)
