Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
مـَنْ عَمـِلَ صَالِحـاً مِـنْ ذَكـَرٍ أَوْ أُنثَى وَ هُـوَ مـُؤْمِـنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَـاةً طَيِّـبَةً…
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan dia beriman, niscaya pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..” (Qs. An-Nahl/16: 97)
Ayat ini merupakan janji dari Allah Swt kepada setiap hamba-Nya tanpa membedakan jenis kelamin.
- Syarat Utama (Iman dan Amal Saleh): Allah memberikan janji ini dengan syarat harus memiliki dua hal secara bersamaan, yaitu iman yang benar di dalam hati dan amal saleh (kebajikan) yang dikerjakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Amal tanpa iman atau iman tanpa amal tidak memenuhi syarat ini.
- Hayatan Thayyibah (Kehidupan yang Baik): Para ulama menafsirkan hayatan thayyibah (kehidupan yang baik di dunia) dalam beberapa pandangan:
- Ketenangan jiwa dan qana’ah: Perasaan Cukup, tenteram, dan lapang dada terhadap segala ketetapan Allah Swt, sehingga tidak dikuasai oleh rasa cemas atau kerakusan dunia.
- Rezeki yang halal dan berkecukupan: Karunia rezeki yang diperoleh dengan cara yang baik serta membawa ketenangan hidup, bukan sekadar kelimpahan materi.
- Kemudahan dalam beribadah: Diberikan kekuatan dan taufik untuk terus taat dan melakukan kebaikan kepada Allah.
- Balasan di Akhirat: Selain kehidupan yang baik di dunia, Allah akan melipatgandakan pahala mereka di akhirat jauh lebih baik daripada apa yang telah mereka usahakan semasa hidup.
الحياة الطيبة ليست كما يفهمها بعض الناس السلامة من الآفات من فقر ومرض، لا بل الحياة الطيبة أن يكون الإنسان طيب القلب، منشرح الصدر، مطمئنا بقضاء الله وقدره، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له، هذه هي الـحياة الطيبة، وهي راحة القلب، أما كثرة الأموال وصحة الأبدان فقد تكون شقاء على الإنسان وتعباً
Kehidupan yang baik bukanlah seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yaitu selamat dari petaka berupa kefakiran dan sakit. Kehidupan yang baik itu adalah seseorang telah:
- menjadi baik hatinya dan lapang dadanya,
- tenang dengan qodho dan qodarnya Allah.
Apabila mendapatkan kebaikan, maka ia bersyukur, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..
Apabila tertimpa musibah, maka ia pun bersabar, niscaya itu adalah kebaikan untuknya..
Inilah kehidupan yang baik, yaitu adanya ketenangan di dalam hati.
Adapun dengan banyaknya harta dan juga sehatnya badan itu terkadang menjadi kesengsaraan dan kepayahan terhadap manusia. (Fatawaa Islaamiyyah – 4/64)
Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa hakikat kebahagiaan dan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) terletak pada ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah, bukan pada fasilitas duniawi seperti kekayaan atau kesehatan fisik.
Pernyataan ini meluruskan kesalahpahaman umum yang sering mengukur kebahagiaan hidup hanya dari standar lahiriah.
Berikut adalah poin-poin penting yang menjelaskan maksud dari ungkapan di atas:
- Definisi “Kehidupan yang Baik” yang Sebenarnya.
Kehidupan yang baik tidak dijamin oleh absennya ujian, melainkan oleh bagaimana cara hati merespons ujian tersebut. Indikator utamanya adalah:
- Hati yang bersih dan dada yang lapang: Tidak dipenuhi penyakit hati seperti dengki, serakah, atau kecemasan yang berlebihan.
- Rida terhadap takdir (Qadha & Qadar): Menerima dengan penuh keyakinan bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik.
- Sikap Seimbang dalam Dua Kondisi Hidup
Seorang mukmin yang memiliki kehidupan yang baik akan selalu berada dalam posisi yang menguntungkan di hadapan Allah (sesuai hadis Nabi saw):
- Saat senang: Ia bersyukur, sehingga kesenangan itu menjadi berkah dan menambah pahala.
- Saat susah: Ia bersabar, sehingga musibah itu menghapus dosa dan meningkatkan derajatnya.
- Sisi Lain dari Harta dan Kesehatan
Banyak orang mengira kekayaan dan tubuh yang sehat otomatis mendatangkan kebahagiaan. Padahal, tanpa iman dan ketenangan hati, kedua hal itu bisa berubah menjadi:
- Sumber kecemasan: Takut kehilangan harta atau selalu merasa kurang.
- Alat maksiat: Tubuh yang sehat dan harta yang banyak bisa melalaikan manusia dari akhirat, sehingga justru membawa kesengsaraan di dunia dan akhirat (istidraj).
Kehidupan yang baik adalah tentang kekayaan jiwa (qana’ah) dan kedamaian batin. Orang yang hatinya tenang bersama Allah akan tetap merasa “hidupnya baik” meskipun ia sedang miskin atau sakit. Sebaliknya, orang yang hatinya kosong akan tetap merasa sengsara meski hidup bergelimang harta. (*)
