Kelalaian Jalan Profetik dan Merebaknya Politik Keduniaan

Kelalaian Jalan Profetik dan Merebaknya Politik Keduniaan
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Kelalaian memahami hakikat dan tujuan dirinya diciptakan, menyebabkan manusia jatuh pada kehinaan. Manusia diciptakan dengan misi untuk menjalankan nilai-nilai profetik tetapi yang tumbuh subur justru insting kecintaan pada dunia. Kecintaan pada dunia (politik keduniaan) inilah sebagai akar tersebarnya kerusakan secara massif. Dikatakan kerusakan massif karena dunia telah menarik dan memalingkan manusia dari tujuan luhurnya, sehingga membuat manusia lalai dari tugas sucinya. Tugas suci manusia untuk mengaplikasikan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan.

Ketika menjalankan nilai-nilai ketuhanan itu, Allah mencatatnya sebagai ibadah. Namun yang terjadi justru sebaliknya, dimana ketika politik keduniaan masuk ke dalam hati manusia, membuat manusia disibukkan menumpuk kekayaan dunia hingga melupakan nilai-nilai profetik.

Misi Profetik

Manusia tergolong sebagai makhluk sempurna dan paripurna. Dikatakan sempurna karena fisik yang bagus dengan ditopang dengan kemampuannya untuk beradaptasi menghadapi kehidupan. Dikatakan paripurna karena manusia diberikan akal dan hati untuk bisa membedakan yang baik dan buruk.

Dengan kesempurnaan dan keparipurnaan itu Allah memberi tugas khusus untuk menjalanan misi besar dengan menjalankan nilai-nilai ketuhanan. Ketika manusia menjalankan misi besar itu, Allah mencatat sebagai ibadah. Hal ini selaras dengan apa yang diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Ayat ini menjadi fondasi bagi seluruh misi profetik manusia, beribadah dan menebarkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Namun, manusia sering kali menafsirkan ibadah secara sempit, terbatas pada ritual. Sementara aspek sosialnya diabaikan. Ketika ibadah tercerabut dari kesadaran moral, muncullah keangkuhan intelektual dan kerakusan material. Manusia pun akhirnya terjebak untuk menumpuk harta dan melampiaskan politik keduniaan, serta rakus mengkoleksi kekayaan dunia.

Sejarah mencatat banyak peradaban yang hancur karena kerakusan pada dunia. Qarun, misalnya, menjadi simbol manusia yang tertipu oleh kekayaannya sendiri. Ia menganggap hartanya diperoleh semata karena kepintaran dan usahanya. Padahal Allah menegaskan :

قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ اَوَلَمْ يَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهٖ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَّاَكْثَرُ جَمْعًاۗ وَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ۝٧٨

Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang-orang yang durhaka itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. (QS. Al-Qaṣaṣ : 78)

Hidup untuk menumpuk dan pamer kekayaan masih terus berlangsung di era modern ini. Korporasi raksasa menguasai sumber daya alam tanpa memedulikan keseimbangan lingkungan, politisi membeli suara rakyat untuk memperpanjang kekuasaan, manusia mengeksploitasi sesamanya dalam sistem ekonomi yang menindas. Mereka tidak memiliki kepekaan dan kepedulian sosial atas perilakunya. Semua itu berpangkal dari hilangnya kesadaran menjalankan misi profetik sebagai hamba yang memegang tugas suci.

Politik Keduniaan

Ketika manusia menyimpang dari nilai-nilai profetik, tumbuhlah jiwa rakus yang terus menumpuk kekayaan dan berkuasa di dunia. Mereka sibuk bekerja tanpa mengenal batas waktu. Bahkan dalam bekerja tidak mengenal etika, apakah pekerjaannya berdampak perbaikan atau kerusakan. Telah hilang pertimbangan halal-haram, benar-salah dalam bekerja. Mereka mencari dan menumpuk rejeki tak terukur, tak terbatas, seolah-olah mau menghidupi seluruh makhluk di dunia ini. Padahal Allah tidak memerintahkan hal itu, dan telah menjami kehidupannya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat : 57)

Allah pun memastikan sebagai Dzat yang bisa memberi rezeki dan menjamin keberlangsungan seluruh makhluk-Nya. Bahkan Allah memastikan bahwa kekayaan rejeki-Nya tidak akan ada habis-habisnya. Hal ini ditegaskan A-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّا قُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Az-Zariyat :  58)

Namun kesadaran ini tertutup oleh kesombongan duniawi. Dari masa Fir’aun hingga penguasa modern yang menindas rakyatnya, dari konglomerat yang menimbun kekayaan hingga elite politik yang memperdagangkan jabatan, semua menunjukkan wajah yang sama, yakni politik keduniaan tanpa moral profetik. Ketamakan ini melahirkan sistem yang memproduksi kerusakan sosial dan ekologis. Allah menggambarkan akibatnya dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Artinya :

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Kerusakan moral, ketimpangan ekonomi, peperangan, dan krisis lingkungan semuanya merupakan manifestasi dari kelalaian manusia terhadap misi profetiknya. Politik yang seharusnya menjadi sarana keadilan justru berubah menjadi arena perebutan kuasa dan kekayaan.

Kelalaian terhadap jalan profetik membuat manusia kehilangan arah dalam berpolitik dan berkehidupan. Jalan profetik menuntun pada keseimbangan antara dunia dan akhirat, sedangkan politik keduniaan menyeret manusia dalam lingkaran kerakusan tanpa ujung. Maka, kesadaran profetik perlu dihidupkan Kembali, bukan sekadar dalam bentuk simbolik atau retorik, tetapi dalam praksis etis: menegakkan keadilan, menolak penindasan, dan menempatkan kekuasaan sebagai amanah, bukan alat menimbun dunia.

Surabaya, 20 Oktober 2025

Tinggalkan Balasan

Search