Direktorat Jenderal Pendidikan Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat sinergi dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk mengakselerasi kualitas pendidikan pesantren di Indonesia.
Kolaborasi ini berfokus pada perbaikan tata kelola, validasi data kelembagaan, optimalisasi Tri Dharma Pesantren, hingga keterlibatan aktif dalam peringatan Hari Santri.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan silaturahim antara Dirjen Pesantren Kemenag, Basnang Said, dengan Ketua PP Muhammadiyah, M. Saad Ibrahim, serta Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M), Masykuri, di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/10/2026).
Basnang Said menegaskan bahwa pembinaan dan penguatan pesantren merupakan komitmen hadirnya negara tanpa membeda-bedakan latar belakang organisasi masyarakat (ormas). Salah satu fokus krusial dari kerja sama ini adalah integrasi data melalui Education Management Information System (EMIS) berbasis by name by address (BNBA).
“Validasi dan integrasi data kelembagaan sangat penting untuk memastikan kebijakan pembinaan, fasilitasi, hingga program afirmasi pemerintah tepat sasaran. Pesantren dan satuan pendidikan keagamaan di bawah Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan Islam nasional yang harus terus kita perkuat bersama,” ujar Basnang.
Selain tata kelola data, sinergi ini mencakup pelaksanaan Tri Dharma Pesantren (pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat) yang memadukan kedalaman tradisi keilmuan Islam (nushush) dengan sains dan teknologi modern. Kemenag juga mengajak Muhammadiyah untuk berpartisipasi aktif dalam Hari Santri sebagai momentum kebangsaan yang inklusif bagi seluruh elemen umat.
“Hari Santri adalah milik bersama, bukan milik satu ormas saja. Ini momentum untuk merawat kontribusi kolaboratif dari Muhammadiyah, NU, Al Washliyah, Persis, dan elemen Islam lainnya,” tambah Basnang.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah M. Saad Ibrahim mengapresiasi terbentuknya Ditjen Pesantren di tubuh Kemenag. Menurutnya, kebersamaan antarorganisasi Islam sangat krusial untuk memperluas kemaslahatan umat serta memperkokoh kontribusi pendidikan Islam bagi bangsa.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua LP2M PP Muhammadiyah, Masykuri, menambahkan pentingnya sintesis antara keilmuan keislaman dan sains umum. “Pendekatan ini sangat relevan untuk membangun pendidikan Islam yang berakar kuat pada nilai keagamaan sekaligus adaptif terhadap kemajuan zaman,” pungkasnya.
Pertemuan hangat tersebut diakhiri dengan penyerahan cenderamata berupa buku terbitan Ditjen Pesantren Kemenag sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat literasi dan kemajuan pesantren di Tanah Air. (*/tim)
