Kemendikdasmen Tegaskan Literasi Jadi Kunci Kesejahteraan

Sejak usia dini sudah diperkenalkan literasi. (ist)
www.majelistabligh.id -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menghentikan langkah dalam menghidupkan budaya membaca, meski rangkaian Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-60 Tingkat Nasional Tahun 2026 resmi berakhir di Cilacap, Jawa Tengah.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, saat menutup helatan tersebut. Ia mengingatkan bahwa berakhirnya seremoni HAI justru menandai dimulainya tantangan nyata di lapangan, khususnya di tengah rendahnya minat baca dan maraknya gempuran hiburan digital.

“Puncak Hari Aksara Internasional 2026 telah selesai. Bawa pulang semua pengalaman ini, tetapi pekerjaan kita belum selesai,” tegas Tatang.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin.

Menurut Tatang, makna literasi saat ini tidak lagi terbatas pada kemampuan mengenal huruf dan membaca tulisan, melainkan mencakup pemahaman mendalam atas kehidupan sehari-hari. Literasi berpengaruh langsung terhadap pengambilan keputusan, peningkatan kualitas hidup, hingga kesejahteraan ekonomi keluarga.

“Buta aksara dapat membelenggu kemandirian dan rasa percaya diri seseorang, termasuk dalam mengelola keuangan keluarga. Karena itu, literasi harus hadir saat kita memahami sesama, menjaga lingkungan, serta memanfaatkan pengetahuan untuk membangun masa depan yang lebih baik,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tatang juga menggarisbawahi peran strategis pendidikan nonformal. Menurutnya, layanan seperti pendidikan kesetaraan, keaksaraan, kecakapan hidup, hingga literasi digital bukanlah sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang harus terus dinamis dan adaptif.

Ia berharap ruang belajar nonformal—mulai dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Taman Bacaan Masyarakat (TBM), hingga lingkup keluarga dan desa—dapat terus diperluas melalui sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia industri, akademisi, media, dan komunitas pemuda menjadi kunci utama pembelajaran sepanjang hayat.

“Dari Cilacap, kita kuatkan keyakinan bahwa setiap orang dapat belajar, setiap tempat bisa menjadi ruang belajar, dan setiap pihak dapat mengambil bagian dalam gerakan literasi,” ujarnya.

Penutupan rangkaian HAI ke-60 tersebut diakhiri dengan penyerahan 17 penghargaan kepada kepala daerah, organisasi pemerintah, lembaga pendidikan, serta individu yang dinilai berdedikasi tinggi dalam memajukan gerakan literasi nasional. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search