Kemiskinan masih menjadi persoalan nyata di Indonesia hingga saat ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada tahun 2025, tepatnya pada September 2025 sebesar 23,36 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kemiskinan tetap menjadi tantangan besar yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Dalam perspektif Islam, kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan dan keadilan sosial. Islam mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, terutama kepada fakir dan miskin. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa harta yang dimiliki manusia memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan.
Namun, realitas yang terjadi menunjukkan bahwa kepedulian sosial masih sering bersifat sesaat. Bantuan dan perhatian biasanya meningkat ketika terjadi bencana atau ketika suatu kasus menjadi viral. Di luar itu, banyak masyarakat kurang mampu yang masih berjuang dalam keterbatasan tanpa mendapatkan perhatian yang memadai.
Selain itu, kemiskinan tidak dapat dipandang sebagai akibat dari kurangnya usaha individu semata. Terdapat berbagai faktor struktural yang mempengaruhi, seperti keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan yang belum merata, serta kesenjangan ekonomi. Dalam konteks ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk mengatasi kemiskinan.
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk tidak hanya menyadari, tetapi juga bertindak. Instrumen seperti zakat, infak, dan sedekah merupakan solusi nyata yang telah diajarkan dalam Islam untuk membantu mengurangi kesenjangan sosial. Jika dikelola dengan baik, potensi ini dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, peran generasi muda juga sangat penting dalam membangun kesadaran sosial. Mahasiswa dan kaum intelektual diharapkan tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga pelaku perubahan yang membawa nilai-nilai keadilan dan kepedulian dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, kemiskinan bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan realitas yang harus dihadapi bersama. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan umat untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan. Dengan mengedepankan nilai-nilai keislaman seperti keadilan, kepedulian, dan gotong royong, diharapkan masalah kemiskinan dapat diatasi secara lebih efektif. (*)
