Wahai saudariku,
Ketahuilah bahwa Islam telah memuliakanmu dengan cara yang tak ternilai. Engkau bukan hanya bagian dari umat, tetapi engkau adalah pondasi peradaban, pelita rumah tangga, dan perhiasan dunia yang paling indah.
Ketika engkau masih kecil, senyummu menjadi penyejuk hati ayah dan ibumu. Dalam kelemahan dan kepolosanmu, engkau menjadi penghalang api neraka bagi kedua orang tuamu, jika mereka mendidikmu dengan penuh cinta dan keimanan.
Ketika engkau beranjak dewasa, dan seorang laki-laki menghalalkanmu dalam ikatan suci, engkau menjadi penyempurna separuh agama suamimu. Bukan karena kau sempurna, tetapi karena ketulusanmu, kelembutanmu, dan perjuanganmu di sisinya adalah ibadah yang tak terputus.
Dan ketika engkau menjadi ibu, tubuhmu mungkin melemah, tetapi surga berada di bawah kakimu. Pengorbananmu saat mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkan anak-anakmu tak terhitung pahalanya.
Setiap peluhmu, setiap lelahmu, dan setiap doa yang kau panjatkan dalam diam, menjadi saksi betapa Allah meninggikan derajatmu.
Wahai wanita Muslimah,
Jangan pernah merasa lemah atau rendah diri. Karena Islam telah mengangkatmu tinggi. Hormatilah dirimu sebagaimana Allah telah memuliakanmu.
Jadilah kuat bukan karena ingin menyaingi laki-laki, tetapi karena engkau sadar betapa besar peranmu dalam membentuk generasi dan menghidupkan nilai-nilai Islam.
Jadilah cahaya dalam rumahmu, doa dalam sujudmu, dan kekuatan dalam kesabaranmu.
Karena engkau… adalah anugerah yang sangat istimewa.
Dalam Shahîh al-Bukhâri dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma, dia berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلى اللهِ قَالَ: الصَّلاةُ عَلى وَقْتِها قَالَ: ثُمَّ أَيّ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوالِدَيْنِ قَالَ: ثُمَّ أَيّ قَالَ: الْجِهادُ في سَبيلِ اللهِ
“Saya bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amalan apa yang paling dicintai Allâh?’ Beliau n menjawab, ‘Shalat pada waktunya,’ Kemudian aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Berbakti kepada orang tua,’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Jihad fî sabîlillâh’.” (Shahîh al-Bukhâri, no. 5976)
Islam sangat melarang menyakiti kedua orang tua atau melakukan sesuatu yang bisa menimbulkan segala yang menyakiti mereka berdua.
Islam menganggap perbuatan tersebut sebagai bentuk kedurhakaan yang akan dihisab oleh Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat nanti, bahkan lebih dari itu Islam menganggap perbuatan tersebut sebagai dosa besar.
Dalam Shahîh al-Bukhâri dan Muslim, dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ألا أُنَبِّئُكُمْ بأكْبَرِ الكَبَائِرِ ؟ ثلاثاً قاَلُوْا : بَلَى ، يَا رَسُول الله ، قَالَ : الإشْرَاكُ بالله ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ ، وكان مُتَّكِئاً فَجَلَسَ ، فَقَالَ : ألاَ وَقَوْلُ الزُّورِ
“Maukah kalian aku kabari dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar?’ Para sahabat berkata : “Tentu wahai Rasûlullâh! Rasûlullâh berkata, ‘Menyekutukan Allâh Azza wa Jalla , durhaka kepada orang tua,’ Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk tegak dari sandaran Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bersabda, ‘Perkataan dusta,’
Beliau terus mengulangi hal tersebut sampai kami berharap Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam ( tidak mengulangi)”. (Shahîh al-Bukhâri, no. 5976 dan Muslim, no. 87)
