Kenapa untuk Dunia Disuruh Jalan, Tapi untuk Allah Disuruh Lari?

Kenapa untuk Dunia Disuruh Jalan, Tapi untuk Allah Disuruh Lari?
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Untuk urusan dunia:

Islam mengajarkan agar kita mencari rezeki secukupnya, dengan cara yang halal, tanpa berlebihan. Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Karena itu dianjurkan “berjalan” artinya tenang, proporsional, tidak tergesa-gesa, tidak sampai melalaikan akhirat.

Allah berfirman: QS. Al-Qashash: 77
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Untuk urusan Allah (akhirat):
Di sinilah kita diminta “berlari” yakni bersungguh-sungguh, bersegera dalam kebaikan, jangan menunda amal.

Allah berfirman QS. Ali Imran: 133
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

Allah juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 148
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

1. Urusan rezeki “berjalanlah”
Allah berfirman dala QS. Al-Mulk: 15
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.

Allah menggunakan kata( فَامْشُوْا (famsyu) yang artinya jalan santai. Rezeki itu sudah dijamin. Cukup jemput dengan sewajarnya, jangan sampai lari dari kehilangan arah.

2. Urusan ampunan “berlombalah”
Allah berfirman dalam QS. Ali Imron: 133
۞ وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya: Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

Kata وَسَارِعُوْٓا (Sari’u) berarti bergegas dalam kompetisi. Jangan mau kalah sama orang lain dalam urusan tobat dan masuk surga.

3. Urusan Allah “larilah”
Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat: 50
فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ
Artinya: Maka, (katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Muhammad,) “Bersegeralah kembali (taat) kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang jelas dari-Nya untukmu.

Ini level kecepatan tertinggi. Kata فَفِرُّوْٓا (fafirru) berarti lari dengan kecepatan penuh seperti orang yang dikejar bahaya dan mencari perlindungan paling aman.

4. Urusan salat “bersegeralah”
Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah: 9
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila (seruan) untuk melaksanakan salat pada hari Jumat telah dikumandangkan, segeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Kecepatanya naik. Allah menggunakan kata فَاسْعَوْا (fas’au). Bukan lagi jalan santai, tapi melangkah dengan serius, penuh niat, prioritas tinggi.

Kita Sring Terbalik
– Untuk urusan dunia yang sudah dijamin, kita sering berlari (fafirru) sampai burnout dan lupa ibadah
– Tapi untuk Allah yang belum tentu kita dapatkan rida-Nya, kita justru berjalan santai (famsyu), menunda-nunda, dan sering telat.

Jadi, maknanya:
* Dunia → cukup secukupnya, jangan sampai jadi beban.
* Akhirat → harus jadi fokus utama, dengan semangat, percepatan, dan kesungguhan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search