Pengikut Yahudi dan Nasrani memiliki sikap yang tegas terhadap agamanya. Agamanya dipandang paling benar dan di atas petunjuk. Sementara agama lain menyimpang dan diupayakan untuk ikut agamanya. Namun sebagian umat Islam mengalami keraguan pada agamanya. Bahkan muncul pandangan seluruh agama benar, dan bisa masuk surga.
Dengan kata lain, sikap moderasi dalam beragama telah mengorbankan dirinya hingga tidak percaya diri pada agamanya. Ini bukan hanya inferioritas dalam beragama, tetapi mendistorsi Islam sebagai agama paling diridhai-Nya.
Keyakinan Yahudi-Nasrani
Kalau kaum modernis seringkali mendengungkan pentingnya moderasi beragama dan tidak boleh mengklaim agamanya paling benar. Namun hal ini berbeda secara kontras dengan realitas yang diungkap Al-Qur’an. Al-Qur’an secara tegas dan jelas menyatakan bahwa kalangan Yahudi-Nasrani memiliki keteguhan dalam beragama. Mereka menyatakan bahwa agama mereka paling benar sementara pemeluk agama lain menyimpang.
Al-Qur’an mensinyalir bahwa Yahudi dan Nasrani mengklaim agamanya paling benar, Mereka sangat percaya diri bahwa agamanya paling benar, dan mendapat petunjuk. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لُوْا کُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Artinya :
“Dan mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-Baqarah : 135)
Merasa yakin agamanya paling benar, mereka ingin mendakwahkan kepada orang lain. Bahkan tertanam dalam hati mereka kebencian atas agama lain, dan tidak rela kepada eksistensi agama lain. Mereka berupaya memurtadkan umat Islam agar masuk dalam barisan agama mereka. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS. Al-Baqarah : 120)
Mereka pun yakin bahwa agamanya di atas petunjuk dan pasti mewarisi surga, sementara penganut agama lain berada di atas penyimpangan dan tidak akan mendapat bagian apa pun di surga. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ لَـيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ وَّقَا لَتِ النَّصٰرٰى لَـيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ ۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ كَذٰلِكَ قَا لَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَا للّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَا نُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
“Dan orang Yahudi berkata, “Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan),” dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, “Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),” padahal mereka membaca kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah : 113)
Klaim sebagai pewaris dan pemilik kebenaran sangat tegas dideklarasikan, baik penganut Yahudi maupun Nasrani. Mereka yakin sebagai pewaris surga sementara agama lain tidak akan mendapatkan apa-apa. Hal ini terabadikan dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَا لُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَا نَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani.” Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah : 111)
Upaya pemurtadan
Oleh karena keyakinannya yang teguh pada kebenaran agamanya, mereka berupaya untuk mengembalikan umat Islam agar mengikuti agama mereka. Mereka pun berupaya untuk memurtadkan umat Islam dari agamanya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَدَّ کَثِيْرٌ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ لَوْ يَرُدُّوْنَكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ اِيْمَا نِكُمْ كُفَّا رًا ۚ حَسَدًا مِّنْ عِنْدِ اَنْفُسِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَـقُّ ۚ فَا عْفُوْا وَا صْفَحُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى کُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 109)
Kegamangan sebagian umat Islam pada agamanya, hingga berkeyakinan setengah-setengah, tak percaya diri pada kebenaran agamanya. Mereka tidak lagi berani menyuarakan Islam sebagai agama paling benar. Padahal nabi-nabi terdahulu sangat tegas dalam mendeklarassikan Islam sebagai agama paling benar.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’kub demikian kokohnya pada Islam, hingga jelang ajalnya berwasiat kepada keturunannya untuk berpegang teguh pada Islam. Mereka berpesan agar generasi pelaanjutnya berpegang teguh pada Islam. Hal ini diwasiatkan hingga ajal menjemputnya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَوَصّٰى بِهَاۤ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَ يَعْقُوْبُ ۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَـكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ
“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al-Baqarah : 132)
Bersikap moderat dalam beragama bukanlah momentum untuk meragukan agamanya, tetapi sebagai penegasan sikap bahwa Islam menghargai keberadaan agama lain dengan membiarkan agama lain mengekspresikan agamanya. Namun Islam tetap harus diyakini sebagai agama paling benar dan siap berkompetisi dengan menjalankan agama Islam secara konsisten sesuai petunjuk Allah dan rasul-Nya.
Surabaya, 22 Januari 2026
