Adapun firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ}
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan. (Al-An’am: 42)
Yakni kemiskinan dan kesempitan dalam hidup.
{وَالضَّرَّاءِ}
dan kemelaratan. (Al-An’am: 42)
Yaitu penyakit dan hal-hal yang menyakitkan.
{لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ}
supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (Al-An’am: 42)
Maknanya adalah meminta kepada Allah, merendahkan diri kepada- Nya dengan penuh rasa khusyuk.
Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:
{فَلَوْلا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا}
Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka. (Al-An’am: 43)
Artinya, mengapa manakala Kami uji mereka dengan hal tersebut, mereka tidak memohon kepada Kami dengan tunduk merendahkan diri dan mendekatkan diri kepada Kami?
{وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ}
bahkan hati mereka telah menjadi keras. (Al-An’am: 43)
Yakni hatinya keras membangkang dan tidak dapat khusyuk.
{وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}
dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. (Al-An’am: 43)
Yaitu kemusyrikan, keingkaran, dan perbuatan-perbuatan maksiat.
{فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ}
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. (Al-An’am: 44)
Maksudnya mereka berpaling dari peringatan itu dan melupakannya serta menjadikannya terbuang di belakang punggung mereka.
{فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ}
Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. (Al-An’am: 44)
Yakni Kami bukakan bagi mereka semua pintu rezeki dari segala jenis yang mereka pilih. Hal itu merupakan istidraj dari Allah buat mereka dan sebagai pemenuhan terhadap apa yang mereka inginkan, kami berlindung kepada Allah dari tipu muslihat-Nya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
{حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا}
sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. (Al-An’am: 44)
Yakni berupa harta benda yang berlimpah, anak yang banyak, dan rezeki melimpah ruah.
{أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً}
Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. (Al-An’am: 44)
Yaitu di saat mereka sedang lalai.
{فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ}
maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (Al-An’am: 44)
Artinya putus harapan dari semua kebaikan. Al-Walibi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-mublis artinya orang yang putus asa. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Barang siapa yang diberi keluasan oleh Allah. lalu ia tidak memandang bahwa hal itu merupakan ujian baginya, maka dia adalah orang yang tidak mempunyai pandangan. Dan barang siapa yang disempitkan oleh Allah, lalu ia tidak memandang bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Allah, maka dia adalah orang yang tidak mempunyai pandangan.” Kemudian Al-Hasan Al-Basri membacakan firman-Nya: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al-An’am: 44)
