Kesombongan dan Kebutaan Atas Petunjuk

Kesombongan dan Kebutaan Atas Petunjuk
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Kesombongan bukan hanya menutup diri dari jalan yang lurus tetapi menutup hati sehingga menolak kebenaran. Mata, telinga, dan hatinya mengalami disfungsi hingga menolak setiap kebenaran yang datang kepadanya. Implikasinya, Allah pun menutup hatinya sehingga apapun kebenaran yang datang akan ditolaknya meskipun akalnya menerima. Bahkan kesalahan terbesar manusia ketika menyimpang dari kebenaran, menimpakan kesalahan itu kepada Tuhan.

Ketika hati menjadi keras, nurani tumpul, dan hidup kehilangan arah, tidak sedikit manusia yang menuduh Allah tidak adil, tidak memberi petunjuk, atau bahkan sengaja menyesatkannya. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas menempatkan kesesatan bukan sebagai akibat dari kezaliman Tuhan, melainkan sebagai konsekuensi dari kesombongan manusia itu sendiri. Allah tidak menutup hati manusia secara sewenang-wenang; justru manusialah yang lebih dahulu menutup diri dari kebenaran, hingga akhirnya Allah membiarkan mereka tenggelam dalam kesesatan yang mereka pilih.

Kesombongan

Kesombongan bukan sekadar sikap merasa lebih tinggi dari orang lain. Dalam perspektif moral dan spiritual, kesombongan adalah penolakan batin terhadap kebenaran ketika kebenaran itu bertentangan dengan ego, kepentingan, dan ambisi pribadi. Pada tahap ini, mata masih dapat melihat, telinga masih dapat mendengar, dan akal masih dapat memahami, tetapi hati telah kehilangan fungsinya sebagai pusat penerimaan kebenaran. Inilah yang menyebabkan manusia mampu memahami kebenaran secara rasional, namun tetap menolaknya secara sadar. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

سَاَ صْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ وَاِ نْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَا ۚ وَاِ نْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۚ وَّاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًا ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَكَا نُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.(QS. Al-A’raf : 146)

Ayat ini menunjukkan bahwa pemalingan dari petunjuk bukanlah tindakan awal dari Allah, melainkan akibat dari kesombongan yang terus-menerus dipelihara. Kesombongan membuat seseorang membenci kebenaran, bukan karena kebenaran itu tidak jelas, tetapi karena kebenaran mengancam posisi, kekuasaan, dan superioritas semu yang selama ini ia banggakan.

Sejarah manusia dipenuhi oleh contoh konkret dari nasib orang-orang yang sombong terhadap kebenaran. Firaun adalah simbol klasik kesombongan struktural dan ideologis. Ia bukan tidak tahu tentang kebenaran yang dibawa Nabi Musa, tetapi menolaknya karena kebenaran itu menggugurkan klaim ketuhanannya. Kesombongan inilah yang akhirnya menenggelamkannya di Laut Merah. Ini sebuah kehinaan yang disaksikan oleh kaumnya sendiri. Di dunia ia dihina dengan kematian yang tragis, dan di akhirat ia dijanjikan azab yang berlipat.

Dalam konteks modern, kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk klaim ketuhanan, tetapi menjelma dalam penyembahan terhadap kekuasaan, harta, jabatan, dan popularitas. Banyak manusia yang menolak kebenaran bukan karena tidak tahu, melainkan karena kebenaran itu menuntut perubahan gaya hidup, pembatasan nafsu, dan pertanggungjawaban moral.

Menolak Hari Kebangkitan

Mereka yang memiliki kesombongan hingga berani menolak kebenaran, pada umumnya menolak hari kebangkitan. Hal ini disebabkan karena keimanan kepada akhirat akan meruntuhkan kebebasan semu untuk berbuat apa saja tanpa kendali nilai. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka yang didominasi kesombongan, juga berbuat kebaikan. Mereka membangun negerinya, memenuhi kebutuhan fisik rakyatnya, hingga menyiapkan fasilitas-fasiltas umu, seperti jalan, penerangan, dan menyiapkan sarana-sarana fisik lainnya. Amal-amal kebaikan yang dilakukannya tidak mendapat ganjaran, tetapi terhapus. Hal I ini disebabkan faktor kesombongannya. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَلِقَآءِ الْاٰ خِرَةِ حَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ ۗ هَلْ يُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

Dan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan (mendustakan) adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf : 147)

Penolakan terhadap hari kebangkitan menjadi ciri lanjutan dari hati yang tertutup. Ketika manusia tidak lagi percaya bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, maka batas antara halal dan haram, benar dan salah, menjadi kabur.

Kesombongan pada akhirnya tidak memuliakan manusia, tetapi justru menghinakannya. Di dunia, mereka hidup dalam kegelisahan batin, meskipun tampak berkuasa dan berlimpah harta. Di akhirat, kehinaan itu menjadi sempurna ketika mereka menyadari bahwa kebenaran yang dahulu ditolak adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Dengan demikian, bukan Allah yang menyebabkan manusia tersesat, melainkan manusia sendiri yang memilih kesombongan daripada ketundukan. Selama hati masih terbuka dan ego direndahkan, petunjuk Allah selalu tersedia. Namun ketika kesombongan dijadikan identitas hidup, maka kebutaan akan senantiasa hadir. Kalau pun ada secerca harapan untuk meniti jalan kebenaran, namun Allah pun menutup jalan sehingga mereka senantiasa berada di atas jalan kesesatan.

Allah Maha Mengetahui bahwa apapun kenikmatan yang diperoleh hamba yang sombong, bukan sebagai jalan untuk berbuat kebaikan tetapi dijadikan untuk membuat kerusakan yang jauh lebih besar. oleh karenanya, Allah menutup jalan itu, sehingga hamba itu tidak bisa mendengar petunjuk yang baik. Hal ini dijelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَلَوْ عَلِمَ اللّٰهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لَّاَسْمَعَهُمْ ۗ وَلَوْ اَسْمَعَهُمْ لَـتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ

Dan sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentu Dia jadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling, sedang mereka memalingkan diri.” (QS. Al-Anfal :23)

Surabaya, 2 Februari 2026.

Tinggalkan Balasan

Search