Dalam dunia pendidikan modern, orang tua seringkali terjebak dalam perlombaan mencari sekolah terbaik, kurikulum internasional, hingga fasilitas les privat yang menguras biaya. Namun, ada satu instrumen pendidikan yang tidak bisa dibeli dengan materi, namun dampaknya mampu menembus batas zaman dan logika. Instrumen itu adalah ketekunan ibadah seorang ibu.
Bagi seorang anak, ibu adalah “madrasah” pertama. Lebih dari sekadar guru, ibadah seorang ibu adalah “asuransi langit” yang menjamin penjagaan Allah atas masa depan putra-putrinya.
Garansi Al-Qur’an: Rahasia Kesalehan Orang Tua
Landasan utama dari konsep ini terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Kahfi ayat 82. Allah SWT menceritakan bagaimana Dia mengutus Nabi Musa As dan Nabi Khidir As untuk memperbaiki dinding rumah dua anak yatim yang hampir roboh. Mengapa Allah memberikan perhatian begitu besar pada nasib dan harta anak-anak tersebut?
Al-Qur’an menegaskan: “…sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh.”
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menjaga keturunan seseorang hingga generasi ketujuh karena kesalehan orang tuanya. Jika kesalehan ayah disebut secara eksplisit, maka ketekunan ibadah seorang ibu yang waktunya jauh lebih banyak dihabiskan bersama anak tentu memiliki pengaruh yang sangat dahsyat bagi keselamatan dan pendidikan sang anak.
Ibadah Ibu: Kurikulum Spiritual di Dalam Rumah
Pendidikan anak bukan hanya soal kecerdasan intelektual (IQ), tetapi soal hidayah dan keberkahan. Ketekunan ibadah ibu memberikan tiga dampak besar:
1. Transfer Karakter (Uswah): Anak yang melihat ibunya istiqamah dalam salat, tilawah, dan dzikir akan tumbuh dengan rasa hormat terhadap otoritas ketuhanan. Ia belajar disiplin dan ketenangan jiwa dari pemandangan harian di rumahnya.
2. Lisan yang menjadi doa, Ibu yang ahli ibadah memiliki lisan yang terjaga. Rasulullah Saw bersabda bahwa doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang tidak tertolak (HR. Tirmidzi). Setiap nasihat yang keluar dari lisan ibu yang rajin bertahajud akan lebih mudah meresap ke hati anak daripada ribuan teori pendidikan.
3. Penjagaan dari Hal yang syubhat, Ibu yang taat biasanya sangat teliti menjaga kehalalan makanan keluarganya. Ketekunan ibadah ini memastikan “bahan bakar” tubuh sang anak berasal dari sumber yang diridhai, sehingga jiwanya mudah menerima ilmu.
Belajar dari Rahim Sejarah
Sejarah peradaban Islam adalah bukti nyata bahwa tokoh-tokoh besar lahir dari “rahim” ketekunan ibadah ibundanya. Kita mengenal Imam Bukhari, beliau sempat mengalami kebutaan saat kecil. Ibundanya tidak berputus asa; beliau melakukan “protes” kepada langit melalui salat malam dan tangisan doa yang tak terputus. Hasilnya, Allah mengembalikan penglihatan Imam Bukhari dan menjadikannya ahli hadits paling berpengaruh sepanjang masa.
Demikian pula dengan Imam Syafi’i. Beliau menjadi yatim sejak kecil dan hidup dalam kemiskinan. Namun, ketekunan ibadah dan keteguhan ibundanya dalam menjaga ketaatan menjadi garansi yang mengantarkan Imam Syafi’i muda menjadi rujukan ilmu dunia hingga hari ini.
Mengetuk Pintu Arsy untuk Masa Depan Anak
Wahai para Ibu, jangan pernah menganggap remeh setiap rakaat salat sunnahmu, setiap lembar Al-Qur’an yang kau baca, dan setiap butir tasbihmu. Pendidikan anak mungkin bisa goyah karena lingkungan, namun “garansi” dari Allah melalui ibadahmu tidak akan pernah meleset.
Pendidikan putra-putrimu tidak hanya ditentukan oleh meja belajar mereka, tapi oleh sajadah tempatmu bersujud. Ketika engkau berhasil “mengetuk” pintu Arsy dengan ketaatanmu, maka Allah sendiri yang akan mendidik, menjaga, dan mengangkat derajat putra-putrimu. (*)
