“Don’t spend time thinking about things that will be finished. Enjoy the process, because every problem is a guest who doesn’t stay long”
“(Jangan habiskan waktu memikirkan hal yang akan selesai. Nikmati prosesnya, sebab setiap masalah adalah tamu yang tak lama tinggal)”
Hadapi segala sesuatu dengan santai dan tenang. Ketika musibah datang, seperti vonis sakit, fokuslah pada yang masih ada. Ada yang mengeluh sakit jantung, padahal masya Allah, liver, telinga, mata, dan panca indra lainnya masih berfungsi!
Satu sakit diberikan hanya untuk menguji sejauh mana kita meningkatkan syukur kepada Allah atas karunia sehat yang dominan. Itu cara berpikir yang benar.
Memikirkan sesuatu yang cepat atau lambat pasti akan selesai hanya menambah beban mental dan waktu. Yakinlah, masalah akan hilang. Tugas kita hanya bersabar dan bersyukur.
Landasan Spiritual tentang hakikat ujian Allah SWT berfirman,
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.“(Qs. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap ujian, termasuk sakit, berada dalam batas kemampuan manusia. Ini menegaskan bahwa jika kita diberi cobaan, kita pasti mampu menghadapinya dengan sabar dan syukur, karena Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Dalam hadis, Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah, mereka mendengar Rasulullah SAW bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
Artinya:
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni” (HR. Muslim No. 2573)
Hadis ini menjelaskan bahwa segala penderitaan fisik seperti sakit, kelelahan, kesedihan, atau kesusahan yang dialami seorang mukmin berfungsi sebagai penghapus dosa, sebuah bentuk kasih sayang dan pembersihan dari Allah SWT, sekaligus menjadi pengingat akan kelemahan diri dan panggilan untuk lebih mendekat kepada-Nya, memberikan pahala bagi yang bersabar dan ridha.
Jadi, syukur atas nikmat yang tersisa jauh lebih berharga daripada kegelisahan atas cobaan yang datang.
Semoga bermanfaat.
