Ketika Allah Mengajarkan Tawadu dan Makrifat Lewat Seekor Lalat

*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Seekor lalat kecil terbang dalam sunyi di antara sisa-sisa makanan yang ditinggalkan manusia. Sayapnya rapuh, tubuhnya ringkih, dan namanya disebut dengan jijik. Ia tidak pernah dipanggil dengan kasih, tidak diberi ruang untuk singgah, kehadiranya adalah penolakan, setiap geraknya adalah ancaman untuk diusir.

Namun lalat tetap hidup menjalani takdir yang telah dititip oleh Allah sang pencipta. Ia mendatangi yang busuk, menyentuh yang kotor. Bukan karena hina, melainkan karena di sana tugasnya berada. Di balik tubuh kecil yang sering diremehkan, Allah titip perahu besar.

Lalat membantu alam seimbang mengurai yang busuk. Agar tidak menjadi petaka, menjadi bagian dari rantai kehidupan yang tidak terputus oleh kehendak manusia. Lalat tidak minta dipuji, tidak menuntut dimengerti, ia hanya taat pada fitrah penciptanya, menjalankan peran, tanpa sorotan, dan disitulah pelajaran itu mengetuk hati manusia.

Betapa sering manusia merasa tidak berarti, merasa kecil di hadapan dunia, merasa tak dianggap, padahal berjalan di jalan takdir yang Allah tetapkan dengan penuh hikmah. Tidak semua yang indah memiliki manfaat besar, dan tidak semua yang bermanfaat tampak indah. Allah melihat bukan dari rupa, melainkan peran dan ketaatan pada tujuan pencipta

Seekor lalat mengajarkan diam, bahwa hidup bukan tentang disukai, tetapi berguna, bukan pujian, melainkan tentang taat dan ridho. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia setiap makhluk sekecil lalat, hingga sebesar langit dan bumi dicipta dengan maksud hikmah dan cinta-NYA yang maha luas.

Makna Tawadhu

  • Tawadhu berarti merendahkan diri, menyadari bahwa kita bukanlah apa-apa dibanding kebesaran Allah.
  • Ketika kita melihat makhluk yang dianggap hina, kita diingatkan bahwa kita pun berasal dari tanah, dari sesuatu yang sederhana, bahkan dari setetes air yang dianggap rendah.
  • Allah mengajarkan bahwa kemuliaan bukan dari asal-usul atau rupa, melainkan dari ketaatan dan kedekatan kepada-Nya.

 Makna Makrifat

  • Makrifat adalah mengenal Allah dengan hati yang jernih.
  • Melalui makhluk yang dianggap jijik, Allah menunjukkan bahwa segala ciptaan-Nya memiliki rahasia dan peran. Tidak ada yang sia-sia.
  • Bahkan cacing, lalat, atau serangga yang kita anggap kotor, punya fungsi ekologis yang menjaga keseimbangan alam. Dari situ, seorang hamba bisa melihat kesempurnaan hikmah Allah.

Rujukan Spiritual

  1. Al-Hajj: 73

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ

“Wahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat. Maka, simaklah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. (Sama-sama) lemah yang menyembah dan yang disembah”.

Allah menyinggung betapa lemahnya manusia, bahkan tidak mampu menciptakan seekor lalat. Ini mengajarkan kerendahan hati.

  1. Al-Mulk: 3-4

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ

“(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidak seimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?

Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan) sekali lagi (untuk mencari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya).

Allah mengajak manusia melihat ciptaan-Nya, tidak ada cacat sedikit pun. Bahkan yang tampak hina tetap sempurna dalam sistem-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Makhluk yang jijik di mata manusia bisa menjadi cermin:

  • Mengingatkan bahwa kita tidak boleh sombong.
  • Mengajarkan bahwa nilai sejati bukan pada penampilan, tapi pada fungsi dan ketaatan.
  • Membuka mata hati bahwa Allah bisa menyingkap ilmu dan hikmah dari arah yang tidak kita sangka. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search