Ketika Bayangan Membutakan Mata dalam Terang

*) Oleh : Syahrul Ramadhan, SH, M.Kn, CLQ
Sekretaris LBH AP PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

Rakus terhadap dunia bukan semata tentang kekayaan. Ia adalah penyakit hati—nafsu yang tak terkendali untuk berkuasa, diakui, dan menumpuk kenikmatan, meski harus mengorbankan kebenaran.

Manusia yang dikuasai kerakusan sering kehilangan satu hal paling mendasar: kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil. Semua yang tampak menguntungkan dianggap benar, padahal bisa jadi itulah awal petaka.

1. Duniawi: Niat Awal yang Menyesatkan

Ketika niat seseorang semata berorientasi duniawi, maka seluruh tindakannya menjadi bias. Kebaikan dijadikan kedok, jabatan dimanfaatkan sebagai alat manipulasi, dan kebenaran dikorbankan demi keuntungan sesaat.

Niat yang salah akan melahirkan jalan hidup penuh kecurangan, bahkan bila ia berdiri di atas panggung kebenaran sekalipun.

2. Terlena: Lupa Dosa di Masa Lalu

Orang seperti ini tak hanya tersesat karena dunia, tapi juga sering melupakan dosa-dosa masa lalunya. Ia hidup seolah tak pernah berdosa, padahal kesalahan itu telah mengikis kepercayaan, baik dari sesama maupun lembaga.

Ia kehilangan integritas karena tak mampu jujur terhadap dirinya sendiri. Setiap tindakannya hanyalah pengulangan dari pola yang sama: tipu daya dan kebohongan.

3. Ayat Peringatan: Allah Mengetahui Isi Hati

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah memperingatkan bahwa isi hati manusia tak luput dari pengawasan-Nya. Kita bisa menipu manusia, tetapi tidak kepada Allah:

“Wa’lamū annallāha ya’lamu mā fī anfusikum faḥżarūh…”

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam dirimu, maka berhati-hatilah kepada-Nya…” (QS Al-Baqarah: 235)

Jangan menunggu terlambat untuk bertaubat, karena kematian tak akan menanti urusan dunia selesai.

4. QS An-Nisā’ Ayat 88: Buta dalam Terang

“…Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk kepadanya).” (QS An-Nisā’: 88)

Hati yang dipenuhi kemunafikan dan kerakusan bisa dibalikkan Allah—dari petunjuk kepada kesesatan. Ia bisa berada di tengah kebenaran, namun tetap memilih jalan batil karena terikat oleh nafsu duniawi.

5. QS Al-A‘rāf Ayat 179: Melihat tapi Tidak Melihat

Ayat ini dengan tegas menggambarkan kondisi batin yang buta, meskipun mata melihat secara fisik:

“Wa laqad żara’nā li jahannama kaṡīram minal-jinni wal-ins, lahum qulūbun lā yafqahūna bihā, wa lahum a’yunul lā yubṣirūna bihā, wa lahum āżānul lā yasma‘ūna bihā, ulā`ika kal-an‘ām, bal hum aḍall…”

“Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam banyak dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati (tetapi) tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, mereka memiliki mata (tetapi) tidak digunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka memiliki telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat…” (QS Al-A‘rāf: 179)

Mereka memiliki pancaindra, namun tidak digunakan untuk memahami kebenaran. Inilah gambaran manusia yang hidup dalam kerakusan dan keangkuhan. Allah menyamakan mereka dengan hewan ternak—bahkan lebih rendah—karena tidak menggunakan akal dan hati.

6. Urgensi Introspeksi Diri

Sungguh penting bagi siapa pun untuk senantiasa bermuhasabah. Jangan merasa aman hanya karena memakai topeng kebaikan. Jabatan bukan jaminan keselamatan. Jangan sekali-kali mengira Allah tidak mengetahui isi hati kita.

“Yastaẓillūna minan-nāsi wa lā yastaẓillūna minallāhi wa huwa ma‘ahum…”

“Mereka menyembunyikan (niat jahat) dari manusia, tetapi mereka tidak dapat menyembunyikannya dari Allah, padahal Dia bersama mereka…” (QS An-Nisā’: 108)

Kerakusan terhadap dunia akan menutup mata hati. Kebenaran tampak sebagai ancaman, dan kebatilan menjadi hal yang wajar. Bila hati telah gelap, maka cahaya petunjuk tak akan mampu menembusnya—kecuali bila kita segera bertobat sebelum ajal menjemput. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search