Ketika Diam Lebih Bernilai dari Seribu Kata

*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang
www.majelistabligh.id -

“In silence, there are strength and wisdom”
(Dalam diam terdapat kekuatan dan kebijaksanaan)

Pepatah kuno “Diam itu emas” sering kita dengar, namun maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar anjuran untuk tidak banyak bicara.

Dalam berbagai situasi, memilih untuk tidak mengucapkan sepatah kata pun justru bisa menjadi tindakan yang paling bijaksana dan berharga.

Diam adalah salah satu bahasa tubuh yang memiliki seribu makna. Ia bisa berarti marah, lemah, perkasa, dan lain sebagainya. Di sisi lain, diam juga merupakan anjuran ketika seseorang tidak dapat berkata yang baik atau benar.

Mengapa diam bisa dianggap emas?

Pertama, diam memberikan kita ruang untuk berpikir dan merenung.

Sebelum bertindak atau merespons, jeda dalam keheningan memungkinkan kita mempertimbangkan berbagai sudut pandang, menganalisis situasi dengan lebih jernih, serta menghindari keputusan impulsif yang mungkin kita sesali kemudian.

Kedua, diam dapat menjadi perisai dan benteng diri.

Di tengah hiruk-pikuk informasi dan potensi konflik, memilih untuk tidak terpancing atau terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu bisa melindungi kita dari energi negatif dan perselisihan yang merugikan. Terkadang, tidak menanggapi provokasi adalah respons yang paling efektif.

Dalam ajaran Islam, terdapat anjuran untuk menjaga lisan dan berhati-hati dalam berbicara. Salah satu hadis yang sangat terkenal, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47)

Hadis ini secara jelas menunjukkan bahwa dalam Islam, pilihan utama adalah berkata yang baik. Namun, jika seseorang tidak yakin dapat mengatakan sesuatu yang baik, maka diam adalah pilihan yang lebih utama dan menyelamatkan.

Diam di sini bukan berarti pasif atau tidak peduli, melainkan menahan diri dari perkataan yang sia-sia, menyakitkan, atau membawa fitnah.

Oleh karena itu, selayaknya setiap orang merenungkan terlebih dahulu apa yang hendak ia ucapkan.

Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah ia menahan lisannya.

Semoga bermanfaat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search