*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Alkisah, Abu Nawas berjalan santai di tengah pasar sambil terus-menerus menatap ke dalam topinya. Wajahnya berseri, senyum bahagia tersungging di bibirnya.
Melihat tingkah aneh itu, orang-orang pun penasaran. “Wahai Abu Nawas, apa yang kau lihat dalam topimu hingga tampak begitu bahagia?” tanya mereka.
Dengan wajah meyakinkan, Abu Nawas menjawab, “Aku sedang melihat surga, lengkap dengan barisan bidadarinya.”
“Boleh kami melihatnya juga?” tanya seorang yang penasaran.
“Tentu boleh,” kata Abu Nawas. “Tapi saya tak yakin kalian akan bisa melihat apa yang saya lihat.”
“Mengapa begitu?” tanya kerumunan yang kini semakin tertarik.
“Karena hanya orang yang beriman dan saleh saja yang bisa melihat surga dan bidadari dalam topi ini,” jawab Abu Nawas serius.
Salah satu dari mereka mendekat dan segera mengintip ke dalam topi. Ia terdiam sejenak, lalu menatap ke arah Abu Nawas dan kemudian melihat orang-orang di sekitarnya. Lalu ia berseru, “Benar! Aku melihat surga dan bidadari di dalamnya. Subhanallah!”
Spontan, kerumunan pun menjadi heboh. Semua ingin melihat isi topi ajaib itu. Namun Abu Nawas memperingatkan, “Ingat, hanya yang benar-benar beriman yang bisa melihatnya. Kalau tidak, mungkin keimanan kalian perlu dipertanyakan.”
Satu per satu orang mencoba melihat ke dalam topi. Banyak yang kemudian mengaku melihat hal yang sama: surga dan bidadari. Namun beberapa di antaranya mengaku tak melihat apa-apa dan mulai menuduh Abu Nawas berbohong.
Kelompok yang tidak percaya kemudian melaporkan Abu Nawas ke Raja, menuduhnya menyebarkan kebohongan dan menyesatkan rakyat.
Abu Nawas pun dipanggil ke istana untuk diadili.
“Benarkah engkau mengaku bisa memperlihatkan surga dan bidadari lewat topimu?” tanya sang Raja.
“Benar, Paduka. Tapi hanya orang yang beriman dan saleh yang bisa menyaksikannya. Jika tidak, berarti keimanannya patut diragukan,” jawab Abu Nawas tenang.
“Kalau begitu, biarkan aku melihatnya sendiri,” kata sang Raja sambil mengambil topi itu dan mengintip ke dalamnya.
Tentu saja, sang Raja tak melihat apa pun. Namun ia pun berpikir—jika ia mengaku tidak melihat surga dan bidadari, maka ia akan dianggap kurang beriman. Reputasinya sebagai pemimpin akan hancur.
Maka sang Raja pun berseru, “Engkau benar, Abu Nawas! Aku juga melihat surga dan bidadari itu!”
Seketika, rakyat terdiam. Tak ada yang berani membantah pernyataan Raja. Mereka takut—jika berbeda pendapat, mereka bisa dicap kafir atau tidak beriman.
Pada akhirnya, kebohongan yang disebar Abu Nawas mendapat legitimasi dari penguasa. Mungkin dalam hati, Abu Nawas tertawa sinis, menyadari bahwa kebohongan bisa diterima sebagai kebenaran ketika kejujuran dikalahkan oleh ketakutan.
Ketika keberanian untuk berkata jujur lenyap, dan ketakutan menguasai akal sehat, maka kebohongan akan melenggang bebas, bahkan disambut sebagai kebenaran. (*)
