Memasuki hari kesembilan Ramadan. Di titik ini, tubuh mulai merasakan ritme yang berbeda. Bangun dini hari tidak lagi terasa seenteng malam-malam pertama sampai kelima. Tarawih mungkin mulai terasa panjang. Tilawah yang dulu mengalir, kini kadang terasa berat. Inilah fase yang jarang dibicarakan: fase lelah di tengah perjalanan.
Ramadan tidak hanya menguji lapar dan haus. Ia menguji konsistensi. Di awal, semua orang bersemangat. Namun yang bertahan hingga sekarang hanyalah mereka yang menjaga niatnya tetap hidup.
Allah SWT berfirman: “Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini bukan hanya tentang ibadah sepanjang hidup. Ia juga pesan tentang istiqamah. Tentang tidak berhenti ketika rasa lelah datang. Hari ketujuh adalah latihan istiqamah kecil
Rasulullah SAW adalah manusia paling sempurna ibadahnya. Namun beliau pun pernah merasa letih. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa beliau kadang beribadah dengan penuh semangat, namun juga mengingatkan agar tidak berlebihan hingga melemahkan diri.
Beliau bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun ,sedikit.”
Inilah rahasia Ramadan.
Bukan siapa yang paling keras di awal. Tetapi siapa yang paling stabil hingga akhir.
Menjaga Bara, Bukan Sekadar Ledakan
Hari pertama, kedua, ketiga, sampai sekarang adalah ledakan semangat. Hari kesembilan adalah ujian kestabilan. Ramadan seperti api unggun. Jika hanya besar di awal tetapi tidak dijaga, ia akan padam sebelum malam berakhir.
Maka hari kesembilan mengajarkan kita untuk menata ulang ritme.
* Jika tilawah terasa berat, kurangi target tapi jangan berhenti.
* Jika tarawih terasa panjang, perbaiki niatnya.
* Jika sedekah terasa berat, mulai dari yang kecil tapi rutin.
Karena Allah tidak menilai besar kecilnya amal, tetapi ketulusan dan konsistensinya.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali ia akan dikalahkan olehnya.”
Ramadan bukan perlombaan yang harus menguras habis energi di awal. Ia perjalanan 30 hari yang perlu strategi hati. Jika hari kesembilan terasa biasa saja, itu bukan kegagalan. Yang berbahaya adalah ketika hati mulai acuh.
Hari kesembilan adalah titik penyeimbang bukan lagi euforia. Belum juga puncak sepuluh malam terakhir. Ini adalah fase menata ulang niat.
Coba kita menanyakan pada diri sendiri, Apakah aku masih berpuasa karena Allah? Ataukah hanya karena sudah terbiasa?
Jika lelah, istirahatlah secukupnya. Jika jenuh, segarkan dengan doa. Jika hati mulai hambar, dekati Al-Qur’an walau hanya beberapa ayat. Ramadan tidak menuntut kesempurnaan. Tapi ia menginginkan kesungguhan.
Hari kesembilan ini bukan tentang seberapa banyak yang sudah kita lakukan. Tetapi tentang apakah kita masih ingin melanjutkan dengan hati yang hidup. Karena yang berat bukan memulai.
Yang berat adalah bertahan.
Dan orang-orang yang bertahan itulah yang akan sampai pada malam-malam terbaik di penghujung Ramadan.
Hari kesembilan telah tiba. Jangan biarkan lelah memadamkan cahaya yang sudah mulai menyala.
