Ketika Logika Bertemu dengan Keajaiban

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Tawakal berasal dari bahasa Arab توكل yang berarti mengandalkan atau berserah diri. Dalam ajaran Islam, tawakal adalah sikap mental dan spiritual yang mengekspresikan keyakinan sepenuhnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik dan pengatur segala sesuatu di alam semesta ini.

Tawakal mencakup keyakinan bahwa Allah memiliki kendali mutlak atas semua yang terjadi, dan manusia hanya dapat berusaha sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya adalah keputusan Allah.

Manusia diperintahkan untuk berusaha (ikhtiar), namun pada akhirnya, segala sesuatu yang terjadi adalah ketetapan Allah. Ketika seseorang memiliki sikap tawakal yang kuat, maka ia akan merasa lebih tenang dan tidak terbebani oleh kegelisahan duniawi. Sebab, ia yakin bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Dalam kehidupan, setiap orang pasti menghadapi berbagai ujian dan tantangan. Namun, sering kali di awal kesulitan, pertolongan atau jalan keluar belum terlihat. Ketika ujian semakin berat dan di saat yang paling sulit, justru di sanalah kita dituntut untuk lebih pasrah kepada Allah.

Ketika hati telah benar-benar berserah diri kepada Allah, maka jalan keluar sering kali datang dengan cara yang tak terduga. Inilah hakikat tawakal: menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha maksimal. Dengan tawakal, seseorang akan lebih mudah melewati berbagai rintangan dalam hidupnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata: “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba jadi putus asa. Demikianlah keadaan hamba ketika tidak bisa keluar dari kesulitan. Ketika itu, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Akhirnya, ia pun bertawakal pada-Nya. Tawakal inilah yang menjadi sebab keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakal pada-Nya.”

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Keutamaan Tawakal dalam Islam

Tawakal memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1. Mendapatkan Pertolongan Allah

Orang yang bertawakal akan selalu berada dalam lindungan Allah. Jika Allah menolong seseorang, maka tidak ada kekuatan apa pun yang dapat mengalahkannya.

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran: 160)

2. Menumbuhkan Ketenteraman Hati

Orang yang bertawakal akan memiliki hati yang lebih tentram dan jauh dari rasa gelisah. Ia tidak mudah terpengaruh oleh situasi dan kondisi duniawi, karena yakin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah dengan hikmah-Nya yang sempurna.

3. Memperoleh Rezeki dari Jalan yang Tidak Disangka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

4. Menjadi Bagian dari Ciri Orang Beriman

Tawakal adalah bagian dari tanda keimanan seseorang. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin besar pula tawakalnya kepada Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)

5. Meneladani Tawakal Para Nabi dan Orang Saleh

Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu telah menunjukkan keteladanan dalam bertawakal kepada Allah.

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Ketika Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api oleh Raja Namrud, beliau hanya mengucapkan: “Hasbunallah wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung). (HR. Bukhari)

Dengan tawakalnya yang luar biasa, Allah menjadikan api tersebut dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

Nabi Musa ‘Alaihissalam

Ketika berada di tepi Laut Merah, dihadapkan dengan kejaran Firaun dan tentaranya, Nabi Musa tetap tenang dan berkata: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara: 62)

Dengan izin Allah, lautan pun terbelah dan Nabi Musa serta kaumnya selamat.

Tawakal adalah bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Dengan memiliki sikap tawakal yang benar, seseorang akan memiliki ketenangan hati, perlindungan dari Allah, dan jalan keluar dari setiap kesulitan.

Semoga kita semua dapat menjadi hamba-hamba yang bertawakal dengan sepenuh hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan ridha-Nya. Aamiin.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah jadikan dia paham dalam urusan agamanya.”
(HR. Bukhari & Muslim). (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search