Malam ini, umat Islam mulai melangkah ke gerbang bulan suci Ramadan dengan pelaksanaan salat tarawih perdana pada tanggal 17. Seiring terbenamnya matahari, masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah yang datang dengan harapan baru, menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan. Suasana religius terasa kian menguat, menandai dimulainya rangkaian ibadah yang akan berlangsung selama satu bulan penuh.
Besok dini hari, tepat tanggal 18, umat Muslim akan melaksanakan sahur pertama sebagai penanda dimulainya ibadah puasa Ramadan. Momentum ini bukan sekadar perubahan kalender, tetapi juga perubahan ritme kehidupan. Aktivitas harian akan disesuaikan, waktu makan bergeser, dan fokus spiritual meningkat.
Ramadan selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Jalanan yang biasanya ramai pada malam hari berubah menjadi lebih hidup setelah salat Isya. Jamaah tarawih berjalan beriringan menuju masjid, membawa sajadah dan mushaf, menciptakan pemandangan yang sarat makna kebersamaan.
Al-Qur’an secara tegas menegaskan kewajiban puasa dalam firman Allah SWT pada Surah Al-Baqarah ayat 183: “Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn” yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menjadi dasar utama bahwa puasa bukan sekadar ritual, melainkan jalan menuju ketakwaan.
Pelaksanaan tarawih pada malam pertama menjadi simbol dimulainya perjalanan spiritual tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan (salat malam di bulan Ramadan) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini menjadi motivasi kuat bagi umat Islam untuk menghidupkan malam-malam Ramadan.
Secara sosial, malam tarawih pertama juga menghadirkan semangat kolektif. Masjid-masjid melakukan persiapan sejak jauh hari, mulai dari kebersihan, pengaturan saf, hingga jadwal imam dan penceramah. Semua elemen masyarakat terlibat, menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya peristiwa individual, tetapi juga peristiwa sosial yang menyatukan.
Sahur yang akan dilaksanakan pada dini hari 18 menjadi bagian penting dari ibadah puasa. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersahur, sebagaimana dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan.” Anjuran ini menunjukkan bahwa setiap detail dalam Ramadan mengandung nilai ibadah.
Dari sisi spiritual, Ramadan adalah momentum evaluasi diri. Aktivitas ibadah meningkat, mulai dari membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, hingga memperbaiki hubungan sosial. Suasana malam pertama sering kali menjadi titik awal perubahan kebiasaan menuju kehidupan yang lebih disiplin dan terarah.
Di berbagai daerah, gema takbir dan lantunan doa mulai terdengar. Meski sederhana, nuansa ini membawa harapan akan ampunan dan rahmat Allah SWT. Ramadan selalu identik dengan semangat memperbaiki diri, menahan hawa nafsu, dan meningkatkan kualitas ibadah.
Secara ekonomi, Ramadan juga berdampak pada peningkatan aktivitas perdagangan, khususnya menjelang waktu berbuka dan sahur. Namun di balik dinamika tersebut, esensi utamanya tetap pada pengendalian diri dan peningkatan kepedulian sosial terhadap sesama.
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari, “Puasa adalah perisai.” Maknanya, puasa menjadi benteng dari perbuatan yang merusak nilai ibadah. Oleh karena itu, malam tarawih pertama menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah proses pembentukan karakter.
Momentum ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi. Keluarga berkumpul untuk sahur bersama, masyarakat saling menyapa di masjid, dan suasana kebersamaan terasa lebih hangat. Ramadan menghadirkan energi kolektif yang jarang ditemukan di bulan-bulan lainnya.
Dalam perspektif keimanan, Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, “Syahru Ramadhānal-ladzī unzila fīhil-Qur’ān…” yang artinya, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” Hal ini semakin memperkuat kedudukan Ramadan sebagai bulan penuh kemuliaan.
Malam ini, tarawih bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah deklarasi kesiapan hati untuk menjalani ibadah selama sebulan penuh. Sahur esok pagi bukan hanya makan sebelum fajar, tetapi awal dari perjalanan panjang menahan diri demi meraih derajat takwa.
Dengan dimulainya tarawih pada 17 dan sahur pertama pada 18, umat Islam memasuki fase baru yang sarat makna. Ramadan kembali hadir sebagai ruang pembenahan diri, penguatan spiritual, dan pembuktian komitmen keimanan. Kini, seluruh umat diajak untuk tidak sekadar menjalani, tetapi benar-benar menghayati setiap detik di bulan suci ini. (*)
