Ketika Media Sosial Menguji Keikhlasan: Antara Dakwah dan Pencitraan

Ketika Media Sosial Menguji Keikhlasan: Antara Dakwah dan Pencitraan
*) Oleh : Nashrul Mu'minin
Content Creator Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Di era digital hari ini, mimbar tidak lagi hanya berada di masjid atau ruang kajian. Mimbar telah berpindah ke layar ponsel, ke beranda Instagram, ke kanal YouTube, ke potongan video berdurasi 30 detik yang viral dalam semalam. Media sosial memberi ruang luas bagi siapa saja untuk berdakwah. Namun di saat yang sama, ia juga menjadi arena yang paling sunyi dan paling berbahaya dalam menguji keikhlasan. Di sanalah niat diuji: apakah benar untuk Allah, atau untuk algoritma?

Kita hidup di zaman ketika jumlah pengikut sering kali lebih diperhitungkan daripada kedalaman ilmu. Dakwah berubah menjadi konten. Ceramah dipotong agar “relatable”. Ayat dan hadis dipilih yang paling mudah memancing emosi. Tidak salah memanfaatkan teknologi, tetapi ketika standar keberhasilan dakwah diukur dari jumlah like, share, dan komentar, ada yang perlu kita renungkan ulang. Sejak kapan ridha Allah bisa dihitung dengan metrik engagement?

Fenomena ini melahirkan dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ada dai yang tulus memanfaatkan media sosial sebagai wasilah menyebarkan kebaikan. Di sisi lain, muncul pula kecenderungan menjadikan agama sebagai branding personal. Busana syar’i menjadi identitas visual. Kata-kata bijak menjadi caption estetik. Tangisan di atas mimbar direkam dalam resolusi tinggi. Bahkan sedekah pun kadang perlu kamera sebagai saksi. Pertanyaannya sederhana: jika tidak direkam, apakah tetap dilakukan?

Ikhlas memang urusan hati. Tidak ada manusia yang berhak menghakimi isi batin orang lain. Namun Islam mengajarkan kepekaan terhadap riya’—penyakit hati yang halus dan mematikan. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang bahaya syirik kecil, yaitu riya’, yang membuat amal menjadi kosong nilai di sisi Allah. Di media sosial, riya’ menemukan panggung yang sempurna. Ia tidak lagi hadir dalam bentuk pujian langsung, tetapi dalam notifikasi yang terus berdenting.

Ironisnya, budaya validasi digital membuat banyak orang tanpa sadar menggantungkan semangat ibadahnya pada respons publik. Ketika konten dakwah sepi penonton, semangat turun. Ketika viral, semangat melonjak. Padahal seharusnya, konsistensi lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Melihat, bukan karena manusia menonton. Keikhlasan sejati justru diuji ketika tidak ada tepuk tangan.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh naif. Media sosial adalah realitas zaman. Menghindarinya sepenuhnya bukan solusi. Justru yang dibutuhkan adalah kedewasaan spiritual dalam menggunakannya. Dakwah digital bisa menjadi ladang pahala besar jika diniatkan benar dan dikelola dengan adab. Transparansi bukan selalu riya’, dokumentasi bukan selalu pencitraan. Namun garis di antara keduanya sangat tipis dan hanya bisa dijaga dengan muhasabah yang terus-menerus.

Masalahnya, industri konten hari ini mendorong personalisasi yang kuat. Dai didorong membangun “citra”, menentukan niche, memperkuat personal branding. Bahasa agama pun sering dikemas agar sesuai tren. Ada godaan besar untuk menyederhanakan ajaran demi popularitas, atau menghindari tema sensitif agar tidak kehilangan pengikut. Di titik inilah integritas diuji: apakah dakwah mengikuti kebenaran, atau mengikuti pasar?

Lebih jauh lagi, publik pun memiliki tanggung jawab. Kita sering lebih tertarik pada gaya penyampaian daripada substansi. Kita lebih cepat membagikan potongan ceramah yang menyentuh perasaan daripada yang menuntut perubahan diri. Kita ikut membentuk ekosistem yang memberi panggung pada sensasi. Jika masyarakat hanya menghargai yang viral, maka jangan heran jika sebagian dai tergoda mengejar viralitas.

Maka, perenungan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah, melainkan untuk mengajak bercermin. Bagi para pendakwah, penting untuk terus memperbarui niat, memperbanyak amal yang tersembunyi, dan tidak menjadikan popularitas sebagai tujuan. Bagi para pengguna media sosial, penting untuk tidak mudah menghakimi, sekaligus tidak menelan mentah-mentah setiap konten berlabel agama. Literasi dan ketulusan harus berjalan beriringan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Ia bisa menjadi tangga menuju kebaikan, atau jurang yang menjerumuskan dalam kesombongan spiritual. Keikhlasan tidak pernah bisa dipamerkan; ia hanya bisa dirawat dalam diam. Di tengah sorotan kamera dan derasnya arus digital, mungkin pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan pada diri sendiri adalah: jika semua akun ditutup hari ini, apakah kita masih tetap berdakwah, masih tetap berbuat baik, dan masih tetap mendekat kepada Allah? Di situlah jawabannya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search