Ujian nikmat itu sebenar-benarnya ujian. Bahwa segala kenikmatan dan kemudahan yang diberikan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala kepada hamba-Nya juga merupakan ujian keimanan.
Banyak penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits menjelaskan : Bahwa Allah menguji manusia, baik dengan keburukan maupun kebaikan, untuk melihat bagaimana mereka bersyukur dan bersabar dalam menghadapi segala situasi.
Penjelasan dalam Qs. Al-Anbiya ayat 35 :
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Dalam hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah ujian dari harta benda.”
Hakikat nikmat adalah ujian dijelaskan QS. Az-Zumar: 49-52 :
“Allah mengingatkan bahwa manusia seringkali lupa dan lalai ketika diberi kenikmatan, menganggapnya sebagai keberhasilan diri sendiri, bukan dari karunia Allah.
Ujian keburukan dan kebaikan :
Ayat lain yang menjelaskan bahwa Allah menguji dengan kebaikan dan keburukan adalah
(QS. Al-Baqarah 155-157)
Makna Ujian Nikmat :
Ujian Syukur :
Nikmat yang diberikan Allah harus disyukuri dengan benar, yaitu dengan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Ujian Kesombongan :
Kenikmatan bisa membuat seseorang menjadi sombong dan lupa diri, merasa bahwa keberhasilan adalah hasil usahanya sendiri, bukan karunia Allah.
Ujian Kezaliman :
Jika nikmat digunakan untuk berbuat dzalim atau melampaui batas, maka itu menjadi ujian yang buruk.
Ujian Istidraj ;
Kenikmatan yang diberikan Allah namun disertai dengan kelalaian dan kemaksiatan, bisa jadi merupakan istidraj (ujian yang menjerumuskan).
Pentingnya Menyikapi Ujian Nikmat :
Bersyukur : Setiap nikmat yang diberikan Allah harus disyukuri dengan hati, lisan dan perbuatan.
Menyadari : Bahwa segala nikmat yang diterima adalah karunia Allah dan bukan hasil usaha semata.
Berhati-hati : Dalam menggunakan nikmat, agar tidak terjerumus dalam dosa dan maksiat.
Bersabar : Ketika ujian nikmat datang, bersabarlah dan jangan mudah putus asa.
Insya Allah kita bisa memahami bahwa kenikmatan juga merupakan ujian. Seorang muslim diharapkan dapat lebih bijaksana dalam menjalani hidup, mensyukuri segala karunia Allah, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. (*)
