Tidak semua hidayah lahir dari mimbar. Tidak semua taubat tumbuh dari nasihat lembut.
Sebagian justru lahir dari kehancuran ego dan remuknya jiwa.
Mike Tyson—ikon kekuatan, simbol keperkasaan, dan legenda dunia tinju—pernah berdiri di puncak yang diimpikan jutaan manusia. Harta, wanita, ketenaran, dan kuasa mengelilingi hidupnya. Namun justru di saat dunia tunduk padanya, hatinya tak pernah benar-benar tenang.
Dalam kisah hidupnya, ia berkata dengan jujur:
“Jika Islam didakwahkan kepadaku sebelum aku masuk penjara, mustahil aku akan menerimanya.”
Betapa dalam makna kalimat ini. Hati yang penuh oleh gemerlap dunia sering kali sulit disentuh cahaya langit. Al-Qur’an sejak lama mengingatkan:
﴿ أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ ﴾
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?”
(QS. Al-Ḥadīd: 16)
Saat semua penopang dunia runtuh, penjara mengubah segalanya.
Di balik jeruji, Tyson tak lagi petinju yang ditakuti. Ia hanyalah manusia rapuh, sendirian, tanpa perlindungan dunia.
Ia mengaku:
“Saat saya masuk penjara, ego saya hancur lebur. Saya merasa tidak ada yang bisa menolong saya kecuali Allah.”
Dan justru di titik inilah Islam datang—bukan sebagai ancaman, tapi sebagai jawaban atas jeritan batin. Allah berfirman:
﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾
“Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Tyson mulai salat. Lima waktu. Teratur. Dari sanalah ia menemukan sesuatu yang tak pernah diberikan kemenangan KO: ketenangan.
﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾
“Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Lebih Baik Penjara Bersama Islam
Pernyataannya kemudian mengguncang cara pandang dunia:
“Jika saya harus memilih antara penjara dan Islam, atau hidup mewah tanpa Islam, saya akan memilih penjara.”
Inilah paradoks iman:
Islam tidak selalu membebaskan tubuh, tapi membebaskan jiwa.
Sementara dunia sering membebaskan tubuh, namun membelenggu hati.
Allah menegaskan:
﴿ اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ﴾
“Allah adalah pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)
Islam Bukan Pabrik Malaikat
Dengan kejujuran yang jarang dimiliki figur publik, Mike Tyson berkata:
“Menjadi Muslim tidak berarti saya menjadi malaikat tanpa dosa.”
Ucapan ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
« كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ »
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat.”
(HR. at-Tirmiżī)
Islam tidak menjanjikan kesempurnaan, tetapi arah. Bukan bebas dosa, tetapi jalan kembali.
Dan bagi siapa pun yang ingin kembali, Rasulullah ﷺ memberi harapan besar:
« التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ »
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibn Mājah)
Bahkan Allah bergembira dengan taubat seorang hamba:
« لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ… »
“ Bagi Allah SWT lebih senang dengan taubatnya seorang hambah salah satu dari kalian…”
(HR. Muslim)
Hidayah Bukan Milik Orang Baik, Tapi Karunia Allah
Mike Tyson mengajarkan satu pelajaran besar bagi umat Islam: jangan menghakimi siapa yang pantas mendapat hidayah.
Karena Allah telah menegaskan:
﴿ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ﴾
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QS. Al-Qaṣaṣ: 56)
Bisa jadi, yang hari ini kita pandang hina, esok justru lebih dekat kepada Allah daripada kita.
Mike Tyson bukan ulama. Bukan wali. Bukan orang suci. Namun kisahnya menjadi saksi bahwa Allah mampu melembutkan hati paling keras, ketika manusia akhirnya jujur mengakui kelemahannya.
Dan sering kali, hidayah lahir bukan di puncak keberhasilan, tetapi di dasar kehancuran.
Semoga kisah ini meneguhkan iman, meluaskan harapan, dan membuat kita lebih rendah hati dalam menilai sesama. (*)
