Manusia sering terbuai dalam gemerlap rencana, ambisi, dan kesibukan yang tak pernah habis.
Padahal tanpa terasa, waktu berjalan dalam diam. Ia tidak menampakkan tanda-tanda awal yang mencolok, tidak menyalakan alarm atau mengirim peringatan. Ia hanya berjalan. Pelan, tapi pasti. Hingga suatu hari, kita tersentak.
Tiba-tiba, mata yang dulu tajam kini mulai buram saat membaca huruf-huruf kecil di layar smartphone.
Tiba-tiba, tubuh yang dulu kuat memanggul beban kini gemetar hanya karena membawa dua kantong belanja.
Tiba-tiba, langkah kaki yang dulu cepat menanjak tangga kini tertatih-tatih, butuh pegangan dan jeda untuk menarik napas.
Tiba-tiba, kita duduk di ruang tunggu rumah sakit, bukan lagi untuk menjenguk, tapi untuk diperiksa karena tekanan darah yang tak stabil.
Tiba-tiba, memori yang dulu tajam mengingat setiap nama dan tanggal kini mulai kabur seperti foto lama yang memudar.
Tiba-tiba, malam terasa lebih panjang karena tidur tak lagi nyenyak seperti dulu.
Tiba-tiba, undangan pernikahan mulai berganti dengan undangan takziah.
Tiba-tiba, kita sadar, ternyata lebih banyak waktu yang sudah lewat daripada yang tersisa.
Tiba-tiba, suara tawa yang dulu riuh di ruang keluarga kini hanya tinggal gema dalam ingatan.
Tiba-tiba, orang yang setiap hari kita temui tak lagi mengabari, tak lagi hadir, seakan menghilang ditelan waktu.
Tiba-tiba, rencana-rencana besar berubah menjadi penyesalan kecil karena tak sempat dilaksanakan.
Tiba-tiba, kita menyadari bahwa hidup tak pernah menunggu kesiapan kita.
Dan kita pun hanya bisa memandang ke belakang, mencoba mencari makna dari semua yang telah terjadi. Lalu kita berharap masih ada waktu untuk memperbaiki, untuk memaknai, dan untuk lebih bersyukur.
Dan, masih banyak lagi kejadian yang “tiba-tiba”, dan kita pun hanya bisa terdiam tanpa mau merenungkannya.
***
Inilah keniscayaan kehidupan. Usia memakan manusia secara perlahan. Tapi di balik kenyataan itu, ada hikmah yang dalam: bahwa hidup bukan soal berapa lama, melainkan seberapa bijak kita menjalaninya.
Usia yang terus bertambah adalah pengingat agar kita tidak menunda-nunda kebaikan.
Bahwa memeluk orang tua hari ini lebih baik daripada berjanji besok. Bahwa meminta maaf sekarang lebih mulia daripada menunggu waktu yang “tepat” yang mungkin tak pernah datang.
Bahwa menyapa sahabat lama hari ini bisa jadi lebih berharga daripada menunggu reuni yang belum tentu terjadi.
Bahwa memberi sedekah saat mampu lebih bermakna daripada menyesal saat tak bisa berbuat apa-apa.
Waktu adalah guru yang paling sabar, tapi sekaligus paling tegas. Ia tak menunggu siapa pun. Karena itu, jangan sia-siakan hari ini. Peluk, ucapkan, beri, dan jalani dengan penuh syukur.
Karena kelak, saat kita duduk sendiri di sudut rumah dengan tongkat di sisi kanan, gigi palsu di gelas, dan kacamata di meja, yang tinggal hanyalah kenangan.
Tentang apa yang pernah kita lakukan, dan apa yang kita sesali karena tidak dilakukan.
Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali mengingatkan manusia tentang kefanaan dunia dan keterbatasan umur. Salah satunya dalam firman-Nya:
“Dan Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya.” (QS. An-Nahl: 70)
Ayat ini tidak hanya menjelaskan proses biologis manusia, tapi juga membawa pesan mendalam. Jika ilmu, kekuatan, dan kecerdasan yang kita banggakan bisa sirna dalam sekejap ketika usia menua, maka jangan sombong, dan jangan tunda amal baik.
Rasulullah saw pun bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang fakirmu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Hadis ini seperti alarm kehidupan yang terus berbunyi: jangan menunggu tua untuk berbuat baik. Jangan menunggu sakit untuk bersyukur atas sehat. Dan jangan menunggu kematian untuk menyadari betapa berharganya hidup ini.
Ali bin Abi Thalib, khalifah yang dikenal dengan kebijaksanaannya, pernah berkata:
“Orang yang paling menyesal di akhirat adalah orang yang diberi umur panjang tetapi tidak mengisinya dengan amal kebaikan.”
Dan di lain waktu, beliau juga mengatakan:
“Waktu itu seperti pedang. Jika kamu tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu.”
Petuah ini mengandung kedalaman makna. Waktu bisa menjadi alat untuk membangun surga, atau menjadi pisau yang melukai diri sendiri jika disia-siakan.
Usia tua adalah fase yang mulia dalam Islam jika diisi dengan ibadah dan kebijaksanaan. Namun bisa menjadi penyesalan panjang jika hanya diisi dengan penundaan dan kelalaian.
Karena itu, usia adalah karunia. Dan setiap keriput yang muncul di wajah adalah isyarat bahwa Allah sedang menunggu amal terbaik kita sebelum lembaran kehidupan ditutup.
***
Pada akhirnya, hidup ini hanyalah persinggahan. Kita datang tanpa membawa apa-apa. Kita akan pergi tanpa membawa apa-apa pula, selain amal dan warisan kebaikan yang tertinggal.
Maka, setiap detik yang lewat seharusnya menjadi ladang amal, bukan ladang penyesalan.
Kita tidak bisa meminta waktu untuk berhenti, tapi kita bisa memilih bagaimana cara mengisinya.
Kita tidak bisa menghentikan uban tumbuh, sendi melemah, atau ingatan memudar, tetapi kita bisa mengisi usia senja kita dengan makna, kebajikan, dan cinta kasih.
Karena yang membuat seseorang dikenang bukan tubuhnya yang kuat, melainkan hatinya yang lembut dan amalnya yang luas.
Sudah saatnya kita berhenti hidup dalam ilusi bahwa waktu masih panjang. Karena kenyataannya, waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Kita mungkin masih bisa tertawa hari ini, tapi tidak ada yang menjamin kita bisa mengucap “maaf” esok hari.
Maka, jika masih ada kebaikan yang tertunda, segerakanlah! Jika masih ada luka yang belum sembuh, bukalah pintu maaf. Jika masih ada doa yang tertahan, bisikkanlah segera kepada langit.
Hidup bukan tentang berapa lama kita tinggal di dunia ini, melainkan tentang apa yang kita tinggalkan setelah pergi.
Bukan tentang seberapa kuat kita di masa muda, tapi seberapa bijak kita di masa tua. Dan bukan tentang seberapa banyak kita dikagumi manusia, tapi seberapa besar kita diridai Allah.
So, mari kita tutup hari ini dengan perenungan dan doa:
Ya Allah, jangan biarkan kami lalai dalam usia muda, dan jangan jadikan kami menyesal saat usia telah senja. Bimbing kami agar setiap waktu menjadi jalan menuju ridha-Mu, setiap langkah menjadi amal, dan setiap detik menjadi bagian dari perjalanan menuju surga-Mu. (*)
