Keutamaan Bulan Syakban

Keutamaan Bulan Syakban
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan Anggota MT PCM Merden, Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Kini, kita berada dalam bulan syakban. Bulan dimana banyak dilupakan oleh kebanyakan manusia. Pasalnya, bulan Syakban terletak diantara bulan mulia yakni Rajab dan Ramadan. Dimana bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram (Asyharul hurum) dan Ramadan merupakan bulan suci bagi umat Islam.

Padahal, bagi para salafus saleh, Syakban adalah momentum untuk melakukan “pemanasan” spiritual sebelum memasuki medan perjuangan di bulan Ramadan.

Ketika memasuki bulan Syakban, ummat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti puasa sunah, salat lail, dzikir, tadarus Al Qur`an dan lain sebagainya. Ibadah tersebut sebagai bentuk kesungguhan dalam menyambut datangnya tamu agung Ramadan yang penuh berkah. Sebab, bila tidak dibiasakan dengan melakukan ibadah pada bulan Syakban, dikhawatirkan saat Ramadhan tiba, kondisi mental spiritualnya belum siap sehingga dapat mengganggu peribadatan dalam bulan Ramadhan tersebut.

Salah satu keutamaan bulan Syakban adalah waktu dilaporkannya seluruh amal perbuatan manusia dalam setahun kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis sahih dari Usamah bin Zaid r.a., beliau bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Syakban?” Rasulullah SAW bersabda:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya: “Itu adalah bulan yang manusia lalai darinya, yaitu bulan di antara Rajab dan Ramadan. Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i No. 2357, dinilai Hasan oleh Al-Albani).

Hadis ini mengandung dua hal penting yaitu bahaya kelalaian dan keinginan untuk menutup tahun dengan puasa. Rasulullah menyebutkan bahwa banyak orang lalai karena sibuk mengagungkan Rajab atau menunggu Ramadan, sehingga Syakban terabaikan. Beribadah di waktu orang lain lalai memiliki nilai pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT.

Rasulullah juga ingin ketika “rapor” amal diserahkan kepada Allah, beliau dalam kondisi ibadah terbaik, yaitu puasa. Rasulullah merupakan pribadi teladan yang gemar puasa apalagi di bulan Syakban dimana amal mausia diangkat oleh Allah SWT.

Kedua, sunah memperbanyak puasa sunah. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya (selain Ramadan), Rasulullah SAW paling banyak melakukan puasa sunah pada bulan Syakban. Hal ini dikisahkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah r.a.:

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (sunah) kecuali di bulan Syakban.” (HR. Bukhari No. 1969 dan Muslim No. 1156).

Para ulama menjelaskan bahwa puasa di bulan Syakban bagi Ramadan ibarat Salat Rawatib bagi salat fardu. Ia berfungsi sebagai penyempurna dan persiapan fisik serta mental agar saat masuk bulan Ramadan, tubuh sudah terbiasa dengan rasa lapar dan haus.

Ketiga, adanya malam nisfu syakban. Meskipun terdapat banyak hadis lemah (dhaif) seputar Nisfu Syakban, terdapat satu jalur hadis yang dinilai sahih atau hasan oleh mayoritas ulama (termasuk Imam Ibnu Hibban dan Syekh Al-Albani) mengenai keutamaan malam ke-15 bulan Syakban. Rasulullah SAW bersabda:

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya: “Allah SWT melihat kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Syakban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang sedang bermusuhan (menanam kebencian).” (HR. Ibnu Hibban No. 5665).

Dari hadis di atas, terdapat pesan penting yang menjadi perhatian kita bersama pada malam nisfu Syakban yaitu untuk menghindari kesyirikan serta menjaga hati dari segala penyakit dan kotoran hati. Menjaga kebersihan hati yaitu dengan menghapus dendam dan kebencian terhadap sesama muslim.

Keempat, syakban sebagai bula Al Qur`an. Meskipun Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, para salaf menjadikan Syakban sebagai waktu untuk mengintensifkan interaksi dengan kitabullah. Hal ini bertujuan agar saat Ramadan tiba, mereka sudah mencapai “puncak” kekhusyukan dalam tadarus.

Salamah bin Kuhail berkata: “Dahulu dikatakan bahwa bulan Syakban adalah bulannya para pembaca Al-Qur’an (Syahrul Qurra’).” Diriwayatkan pula bahwa Amr bin Qais apabila memasuki bulan Syakban, beliau menutup tokonya dan memfokuskan diri untuk membaca Al-Qur’an.

Masih tentang keutamaan bulan Syakban, Abu Bakar al Balkhi memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang tiga bulan berurutan: “Bulan Rajab adalah bulan menanam benih, bulan Syakban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen hasil tanaman.” Tanpa “menyiram” di bulan Syakban, mustahil seseorang bisa memanen dengan maksimal di bulan Ramadan.

Oleh karennaya, pada bulan Syakban ini sudah semestinya kita gunakan sebagai momen untuk berbenah dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan. Bahwa bulan Syakban bukan sekadar “bulan penantian”, melainkan bulan kerja keras untuk mempersiapkan ruhani.

Berdasarkan dalil-dalil di atas, ada beberapa amalan utama yang dianjurkan diantaranya memperbanyak puasa sunah untuk melatih ketahanan fisik. Meningkatkan intensitas tilawah al-Qur’an dengan tujuan agar tidak kaget saat target khatam di bulan Ramadan. Memperbaiki hubungan sesama manusia sebagai upaya membersihkan hati dari dendam agar layak menerima pengampunan di malam Nisfu Syakban. Serta melunasi hutang puasa bagi yang memiliki qada puasa tahun lalu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search