Keutamaan Lapar

Keutamaan Lapar
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Warga Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya yang terkenal, Ihya Ulumuddin, mengurai sepuluh keutamaan lapar untuk meraih kenikmatan ruhaniah. Pertama, lapar itu bisa menjernihkan hati, mencerdaskan pikiran, dan menerangi penglihatan batin. Sementara itu, kenyang menyebabkan kebebalan, membuat hati buta dan menutupi kejernihan akal pikiran.

Rasulullah bersabda, “Hidupkanlah hatimu dengan sedikit tertawa, sedikit kenyang, dan sucikanlah ia dengan lapar maka ia akan bersih dan menjadi lembut.” Abu Sulaiman Ad-Darmi berkata, “Tetaplah engkau dalam keadaan lapar, karena sesungguhnya ia adalah menghinakan nafsu, melembutkan hati, dan medatangkan samawi.” Mendatangkan samawi artinya menghadirkan Tuhan dalam diri  dan mendekatkan para malaikat untuk dekat dengan kita.

Kedua, lapar dapat melembutkan hati dan kejernihannya yang menyebabkan hati itu siap untuk menemukan kelezatan berdzikir. Kita ini hampir setiap hari berdzikir mengingat Allah. Dengan shalat, bertasbih, bertahmid, tahlil, bertakbir, beristighfar dan sebagainya. Tapi, sudahkah kita merasakan kelezatannya atau setidaknya memiliki kesan dalam diri kita?

Imam Junaid pernah menanyakan, “Bagaiman mungkin seorang yang menjadikan perutnya keranjang makanan itu akan bisa merasakan lezatnya dzikir?” Abu Yazid Al-Bustami juga memberi kiasan yang indah, “Rasa lapar adalah laksana mendung. Ketika seseorang dalam keadaan lapar, niscaya hikmah akan menghujani persada hatinya.

Ketiga, lapar itu menyebabkan hawa nafsu menjadi hina dan tidak mampu menyombongkan diri dan mengkufuri nikmat. Perut dan kemaluan adalah sebuah pintu dari pintu neraka, dan pangkalnya adalah kenyang. Kehinaan dan kekalahan nafsu adalah merupakan sebuah pintu dari pintu surga, dan pangkalnya adalah lapar.

Rasulullah pernah menolak tawaran dunia dan segala perhiasannya, “Tidak, aku lebih baik merasakan lapar sehari dan kenyang sehari. Apabila lapar, maka aku akan bersabar dan merendahkan diri kepada Allah. Dan apabila aku merasakan kenyang, maka aku akan bersyukur kepada Tuhanku.” (HR. Imam Turmudzi).

Dengan kata lain, kita ini baru merasakan nikmat itu berharga ketika kita kenikmatan itu hilang dari kita. Kita kadang baru merasakan nikmat sehat tatkala ketika sudah merasa sakit. Kita baru mengerti makna nikmatnya kenyang ketika kita didera perihnya lapar. Dan, kita baru mengenal dan mengerti nilai sebuah cahaya manakala cahaya atau diri kita diselimuti kegelapan.

Keempat, lapar itu mampu menundukkan kekuatan hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kemaksiatan. Sebab, sesungguhnya sumber-sumber maksiat itu adalah kesenangan nafsu dan kekuatan, sedangkan bahan dari kekuatan dan keinginan nafsu itu tidak lain adalah makanan dan minuman.Orang yang beriman sering takluk oleh tuntutan hawa nafsu. Orang yang berilmu juga sering membisu ketika nafsu syahwat merayunya. Nabi Yusuf yang juga seorang Rasul saja mengakui betapa kuatnya nafsi dalam diri seseorang,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf: 53)

Kelima, menghalangi tidur dan melanggengkan jaga. Karena sesungguhnya orang yang kenyang akan banyak minum, dan orang yang banyak minum akan banyak tidurnya. Karena itulah sementara ulama berkata ketika telah dihidangkan makanan, “Hai murid-murid (peminat-peminat akhirat), janganlah kamu banyak makan, tentu kamu akan banyak minum, dan akhirnya akan banyak tidur, dan akhirnya mengalami kerugian yang banyak.”

Saat kita buka puasa dan diperbolehkan makan minum di sisanya malam, maka kita mengantuk berat karena kekenyangan. Biasanya, kita selepas shalat tarawih kita biasanya makan-makan lagi dan, tentu, plus minum. Setelah itu, kita bertadarus membaca Al-Quran. Jika perut terlalu kenyang, maka kita tidak akan kuat terlalu alama membaca Al-Quran. Belum sampai satu halaman sudah sangat mengantuk dan akhirnya tidur. Jadi, ndak usahh mikir I’tikaf, baca quran di rumah saja sudah tidak mampu sudah terkalahkan rasa kantuk.

Keenam, lapar itu mengingatkan seseorang pada ujian dan azab Allah. Orang yang kenyang biasanya tidak ingat bagaimana saat lapar dan haus. Orang yang kenyang dan selalu bergelimang dengan kekayaan tidak akan ingat bagaimana pedihnya siksa di Hari Akhir. Karenanya, sebagaimana diingatkan Allah dalam QS. Al-Insyiqaq: 10-14, “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, 11. Maka Dia akan berteriak: “Celakalah aku”. 12. dan Dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). 13. Sesungguhnya Dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). 14. Sesungguhnya Dia menyangka bahwa Dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya).

Begitu juga, orang yang lapar dan haus akan merasakan bagaimana perihnya lapar dan dahaga yang dirasakan oleh orang-orang yang mendapat ujian dari Tuhannya. Mereka serba berkekurangan makanan dan minuman. Dari sinilah tumbuh rasa empati dan peduli kepada sesame. Ketika Nabi Yusuf AS menjadi menteri Perbendaharaan logistic Negara membiasakan diri untuk berpuasa setiap hari. Orang-orang sampai bertanya, “Mengapa Anda berlapar-lapar padahal engkau menguasai pembendaharaan bumi?” Nabi Yusuf pun menjawab, “Aku takut kenyang dan melupakan orang yang lapar.”

Ketujuh, orang yang lapar akan mudah dan lebih tekun dalam beribadah. Mengurus dan sibuk dengan makanan itu menghalangi berbagai ibadah. Karena makanan ia memerlukan waktu untuk membeli makanan dan memasaknya, kemudian memerlukan waktu untuk mencuci tangan dan membersihkan sisa makanan yang ada di celah-celah gigi, akhirnya banyak sekali mondar-mandirnya ke tempat air minum karena banyak sekali minumnya. Cobalah kita perhatikan bagaimana sibuknya orang yang keliling mencari makanan menjelang berbuka puasa. Atau, bagaimana sibuknya ibu-ibu yang sibuk dengan makanan lebaran menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ia harus korbankan tilawah Al-Qurannya, I’tikafnya dan amalan ibadah lainnya.

Kedelapan, Orang yang akan dapat mengambil manfaat dari sedikit makanan, kesehatan tubuh, dan selamat dari macam-macam penyakit. Seorang peneliti asal Jepang pernah meneliti tentang puasa dan hasilnya yang menakjubkan. Profesor Yoshinori Ohsumi namanya. Ia membuktikan secara ilmiah betapa puasa dapat memiliki dampak posititf bagi kesehatan. Bahkan, penelitiannya tentang puasa ini mengantarkannya meraih hadiah Nobel. Baginya, puasa berkaitan erat dengan autophagy.

Apa itu Autophagy? Ia merupakan istilah Yunani yang berarti ‘memakan diri sendiri’. Secara ilmiah, autophagy dikenal sebagai kemampuan sel dalam tubuh untuk memakan atau menghancurkan komponen tertentu di dalam sel itu sendiri.

Melalui penelitiannya, Ohsumi menemukan bahwa autophagy memegang peran besar dalam tubuh. Mekanisme ini berperan besar dalam mengontrol fungsi-fungsi fisiologis penting di mana komponen sel perlu didegradasi dan didaur ulang.

Dengan autophagy, sel dapat dapat mengisolasi bagian dari sel yang rusak, mati, tidak bisa diperbaiki, terserang penyakit maupun terinfeksi. Setelah mengisolasi bagian yang bermasalah, sel kemudian menghancurkan bagian tersebut menjadi sesuatu yang tidak membahayakan dan melakukan daur ulang untuk menghasilkan energi dalam sel.

Dari mekanisme ini, komponen-komponen sel yang rusak akan dibangun dan diperbaharui kembali. Pada kasus sel yang terkena infeksi, autophagy juga dapat mengeliminasi bakteri atau virus penginfeksi. Tak hanya itu, autophagy juga berkontribusi dalam perkembangan embrio hingga pencegahan dampak negatif dari proses penuaan.

Dari temuan ini diketahui bahwa mekanisme autophagy tak hanya berdampak baik pada kondisi sel yang bersangkutan saja. Mekanisme autophagy juga terbukti berperan menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Karena autophagy berkaitan dengan kondisi kesehatan seseorang, gangguan dalam proses autophagy juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa masalah kesehatan yang berkaitan dengan terganggunya proses autophagy ialah diabetes tipe 2, kelainan saraf, kanker dan berbagai penyakit yang berkaitan dengan usia.

Berdasarkan penelitian, Ohsumi juga menemukan satu cara sederhana untuk ‘memancing’ terjadinya autophagy dalam sel. Seperti dilansir dari laman resmi Buchinger Wilhelmi, cara sederhana untuk memancingnya adalah dengan berpuasa.

Ohsumi menemukan bahwa kunci untuk ‘mengaktivasi’ proses autophagy pada sel ialah kondisi kekurangan nutrisi. Di sisi lain, berpuasa membuat otak menerima sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan makanan dan mencari-cari makanan yang tersisa dalam tubuh.

Proses ini membuat autophagy teraktivasi dan sel mulai melakukan perusakan terhadap protein yang rusak ataupun tua di dalam tubuh. Ketika kadar insulin dalam tubuh menurun, glucagon mulai bekerja dan membersihkan sisa-sisa sel yang telah mati atau rusak.

Selama proses ini, tubuh harus terbebas dari makanan atau minuman minimal selama 12 jam, sesuai dengan durasi berpuasa umat Muslim pada umumnya. Sedikit saja makanan yang masuk ke tubuh sebelum 12 jam dapat membuat proses autophagy terhenti.

Seperti dilansir Saudi Gazette, manfaat dari ibadah berpuasa ini sebaiknya tak hanya dirasakan saat Ramadhan saja. Ibadah puasa sunnah yang rutin akan merangsang terjadinya proses autophagy lebih sering sehingga tubuh pun akan menjadi lebih sehat.

Berdasarkan temuan ini, Ohsumi berhasil memenangkan Hadiah Nobel di bidang Ilmu Fisiologi atau Kedokteran. Menurut The New York Times, Ohsumi resmi menerima penghargaan bergengsi ini pada 3 November 2016.

Kesembilan, keringanan biaya hidup. Perut itu akan memiliki kebiasaan dalam memberikan sinyal “lapar” sesuai dengan jam makan kita. Saat pagi menjelang dan kita biasa memasok makanan, maka perut akan “keroncongan” memanggilnya. Begitu juga saat siang dan malam. Tetapi, sinyal keroncongan ini bisa dirubah, sesuai dengan kebiasaan makan yang kita ubah. Ramadhan adalah momentum terbaik mengubah kebiasaan tersebut. Ketika Ramadhan usai, oleh Rasulullah kita masih diberi kesempatan besar untuk menghapus dosa dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

Dalam konteks puasa bisa membuat irit biaya hidup, Anda bisa bertanya kepada para mahasiswa yang kirimannya pas-pasan. Awalnya (sepertinya) memang dalam menekan biaya hidup, tetapi saya yakin niat awalnya adalah ingin berpuasa meraih berkah hidup dan (kedua) menekan biaya hidup. Rasulullah saja ketika di padi hari tidak menemukan makanan, beliau lanjutkan dengan puasa.

Puasa bagi mahasiswa adalah bagian membangun kesungguhan dalam meraih kesuksesan. Berusaha meraih sukses itu seperti kekuatan menarik anak panah. Ketika anak panah itu tidak ditarik ke belakang dan dilepas, maka anak panah akan jatuh tidak jauh dari busur penariknya. Tetapi, jika anak panah itu ditarik ke belakang dengan kencang, maka anak panah akan melesat jauh menembus batas yang merintanginya. Tarikan ke belakang bermakna menahan rasa lapa dan dahaga, harus bekerja keras “berdarah-darah”, rela berkesusahan dan kadang harus menangis, dan kadang harus serba berkekurangan. Berpuasa mendidik dan mengajari seseorang untuk menarik kencang perutnya menahan lapar (keinginan besarnya) untuk mencapai kesuksesan yang sebenarnya.

Kesepuluh, memungkinkan orang untuk mengutamakan orang lain dan bersedekah dengan makanan dan minuman yang lebih kepada mereka yang kurang mampu dan beruntung. Dengan berpuasa kita bisa menyisihkan untuk bersedekah kepada orang lain. Wallahu a’lamu.

 

Tinggalkan Balasan

Search