KH Faturrahman Kamal Ungkap Tantangan Muhammadiyah Mencari Imam Masjid

KH Faturrahman Kamal Ungkap Tantangan Muhammadiyah Mencari Imam Masjid
www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, KH Faturrahman Kamal, Lc., M.Si., menyampaikan keprihatinannya atas masih terbatasnya ketersediaan sumber daya manusia di lingkungan persyarikatan, khususnya yang memenuhi kualifikasi sebagai imam masjid dan musala. Kondisi ini terasa ironis di tengah maraknya pemberitaan media massa yang kerap mengutip besarnya nama Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan terbesar keempat di dunia.

“Harus saya sampaikan, Muhammadiyah justru menghadapi tantangan serius dalam mencari imam masjid dan musala, sebuah peran fundamental yang menjadi penopang utama pembinaan keimanan umat,” ujar Faturrahman Kamal saat mengisi Kajian Pagi Fajar Mubarak di halaman SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (8/2/2026) tersebut dihadiri ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai daerah.

Ia mengakui, posisi imam masjid kerap dipandang kurang mentereng jika dibandingkan dengan jabatan lain di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti rektor, kepala sekolah, direktur rumah sakit, maupun pimpinan lembaga lainnya. Bahkan, jabatan-jabatan tersebut sering kali harus diraih melalui proses seleksi dan kompetisi yang tidak ringan.

Lebih lanjut, Faturrahman Kamal menilai tingginya minat menjadi pimpinan AUM tidak terlepas dari kejelasan sistem, struktur jabatan, serta honorarium yang menyertainya.

Sebaliknya, posisi imam masjid cenderung sepi peminat karena menuntut keikhlasan total, pengabdian yang berkelanjutan, serta orientasi utama pada ridha Allah SWT, bukan pada imbalan materi.

Dalam tausiyahnya, Faturrahman Kamal juga menyoroti krisis keimanan yang tengah melanda umat. Menurutnya, tidak sedikit orang cerdas yang justru kehilangan kejernihan berpikir akibat rapuhnya iman dan tauhid. Ketika Allah SWT tidak lagi menyisakan orang-orang alim yang berilmu dan berakhlak, maka akan muncul figur-figur tanpa dasar keilmuan yang tiba-tiba mengklaim diri sebagai ustaz, gus, atau kiai, bahkan berdakwah tanpa ilmu melalui media sosial.

Ia mengutip kegelisahan KH Ahmad Dahlan tentang problem umat yang mempertahankan hawa nafsu dan mengagungkan akal semata, seperti akalnya Fir’aun yang melupakan keberadaan Allah SWT. Dalam pandangannya, dakwah dan pendidikan tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan dalil, melainkan harus digerakkan oleh ruh, spirit, dan kesucian jiwa.

Selain itu, ia mengingatkan, orientasi berlebihan terhadap benda dan teknologi telah menjadi problem serius umat masa kini. Teknologi, menurutnya, memiliki keterbatasan dan tidak mampu menggantikan peran iman.

“Fainā tazhhabūn, mau ke mana kita melangkah jika Allah tidak lagi kita posisikan sebagai pusat kehidupan,” ujarnya.

Menutup kajian, Faturrahman Kamal menegaskan pentingnya menjaga lisan dan adab dalam berdakwah. Sikap mudah menyesatkan orang lain, menurutnya, bertentangan dengan manhaj Rasulullah SAW yang selalu menempuh proses panjang dan penuh kehati-hatian, bahkan dalam menegakkan hukum.

Dai yang memiliki mental sombong dan merasa paling benar, tegasnya, tidak akan diterima umat, karena dakwah sejati lahir dari jiwa yang bersih—sebagaimana spirit KH Ahmad Dahlan yang menjunjung tinggi kesucian jiwa. (m roissudin)

Tinggalkan Balasan

Search